Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kategori

Artikel (4) Dakwah (7) Motivasi (3) Muhasabah (11) Munajah (7) Prosa (5) Puisi (18) Tarbiyah (2)

Jumat, Februari 27, 2009

Surat untuk Sahabat


Sahabat, semoga senantiasa kita bisa menapaki jalan ini dengan lurus dan tetap pada ridho-Nya. Persahabatan yang telah qita jalin semoga bisa menjadi ladang amal agar perjalanan ini menjadi berwarna dengan warna2 yang indah.

Tahukah sahabat, jika setiap orang itu memilki dunia yang berbeda. Semakin kita banyak memiiki sahabat maka semakin banyaklah dunia yang kita jumpai, maka semakin luas pulalah wawasan kita.

Aku adalah sosok yang apa adanya. Terlahir dari rahim suci yang penuh kasih. Aku adalah bersih, maka jika sekarang aku menjadi kotor maka itu karena ulahku sendiri. Untuk itu tolong untuk selalu menasihati dan mengingatkanku sahabatku.

Aku adalah aku. Takkan semua orang tahu pasti akan aku, bahkan mungkin semuanya. Aku hanyalah sosok yang ingin hadirku menebarkan kasih sayang, keceriaan, kedamaian, keoptimisan & kemaslahatan yang lain.

Marilah kita semua tersenyum untuk sebuah kemenangan. Yakin masa depan gemilang di tangan kita.

Di Sudut Jendela


Untuk seorang mahasiswaku

07:44:00
Dari jendela, terlihat kau saudaraku
Laju melangkah bagaikan terburu-buru
Terasingkah atau mencari sesuatu
Keresahan tercerita di wajah mu

Mengapakah terhenti langkah mu di situ
Malukah kau mengetuk pintu ku
Ingatkah kau akan bergunung-gunung intan
Lambang budi yang telah kita taburkan

Kita hanya insan-insan yang lemah
Bersama berpaut sebelum rebah
Hulurkan tangan ku dan sambutlah tangan ku
Kau akan tahu nilai persahabatan
Sambut Uluran Tangan ku.. sudikah?

Bahagiaku : Untuk Mahasiswaku


sederhana, namun menyimpan sebuah kekuatan yang dapat membuka mata hingga terlihat jelas arti hidup..satu lagi yang membuatku tersentak pagi ini ketika ada catatan sederhana dalam buku tamu blogku, yang sepertinya sengaja dibuat untukku, sebuah catatan yang menggugah nurani untuk sadar dari kebekuan ukhuwah.
aku tahu aku salah...dan torehan sederhana itu mengingatkankanku.
sebuah karya sastra sebagai ekspresi jawaban atas ukhuwah yang tersekat.

Bahagiaku,

Tatkala
seorang kawan menyampaikan kalimat pengingat diri,
Untaian
kata pelipur duka,
Untaian
kata pembangkit jiwa,
Untaian
kata menuju keridhoanNYA,

Bahagiaku,

Tatkala
terucap kata “ana uhibbuk fillah” dari mulut seorang sahabat,
Sambutan hangat atas rasa cinta yang lahir karenanya.
Dan suka cita yang menghampirinya dengan atau tanpa perantara diri ini.


Kamis, Februari 26, 2009

Usai Sudah Duka, Esok Harus Ceria




Catatan Refleksi Untuk "Presiden Mahasiswaku"

Kamis, 26 Februari 2009 malam
aku dikejutkan oleh SMS dari seorang mahasiswaku, SMS yang mengajakku untuk tidak bersedih ( dengan mengutip pesan dari A'idh al Qarni). entahlah, aku hanya berpikir mungkin nampak diwajahku bulir kesedihan hingga mahasiswaku pun menghiburku.

hanya saja, jam 02.44 dini hari, SMS datang kembali dari orang yang sama dengan nuansa yang berbeda, kini ia berduka, ia bersedih...karena masa lalu yang kelam
sejenak aku bingung.
ya...aku memohon maaf karena aku tak sanggup menyelami maksudnya.
kucoba replay dengan beberapa nasehat untukku dan untuknya.

malam ini kucoba sampaikan pesan al Qarni, sebagai refleksi untuk kita semua.
_________________


Mengenang masa lalu untuk kemudian bersedih atas semua kegagalan yang pernah dialami merupakan tindakan sia-sia, membunuh semangat, memupus harapan dan mengubur masa depan.

Muslim yang berpikir cerdas akan melipat berkas-berkas masa lalu, ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘gudang lupa’, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ acuh buat selamanya, karena masa lalu telah berlalu. Kesedihan dan keresahan tak akan mampu memperbaikinya kembali. Kegundahan tak akan mampu merubahnya menjadi terang, karena memang ia sudah tiada.

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri kita dari bayangan masa silam. “Apakah kita ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya dan air mata ke dalam kelopaknya ?

Ingatlah, keterikatan kita dengan masa lalu, keresahan kita atas apa yang telah terjadi adalah tindakan yang sangat naif, ironis, memprihatinkan dan menakutkan. Membaca kembali lemba-ran masa lalu hanya akan memupus masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Al-Qur’an mengajarkan setiap kondisi yang menerangkan suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah swt selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, tak ubahnya seperti menumbuk tepung, menggergaji serbuk kayu. Orang tua-tua kita mengajarkan, “Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”.

Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan hanya karena disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab yang demikian itu mustahil, karena angin selalu berhembus ke depan, air selalu mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan maju ke depan.

Maka itu, jangan pernah melawan sunnah kehidupan! Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dan bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita dan siangnya menyapa, inilah hari kita.

Umur kita mungkin tinggal hari ini. Anggaplah masa hidup kita hanya hari ini. Seakan-akan kita dilahirkan pada hari ini dan akan mati hari ini. Dengan begitu, hidup kita tidak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka cita masa lalu, atau bayangan masa depan yang penuh ketidak pastian bahkan acapkali menakutkan.

Mari curahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras untuk hari ini. Mari bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang penuh penghayatan, zikir dengan sepenuh hati. Keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, ridho dengan semua yang Allah swt berikan, berempati terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta berbuat baik terhadap sesama.

Pada hari dimana kita hidup, saat inilah sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak. Jadikan setiap menitnya laksana seribu tahun dan setiap detiknya laksana seratus bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari ini. Persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari ini.

Bertaubatlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya. Bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan penuh kesenangan dan kebahagiaan. Terimalah rezeki, istri, anak, tugas, ilmu, dan amanah hari ini dengan penuh keridhoan.

“Maka berpegang teguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hen-daklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS.Al-A’raf: 144).

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian, dan kebencian. Jangan lupa, hendaklah kita goreskan pada dinding hati kita satu kalimat : “Hari kita adalah hari ini”.

Bila hari ini kita dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka jangan pernah peduli dengan nasi basi yang telah kita makan kemarin atau nasi hangat esok hari yang belum tentu ada. Jika kita percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat maka kita akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: “Saya hanya akan hidup hari ini.” Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri kita setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi dan mensucikan semua amalan.

Dan itu akan membuat kita berkata dalam hati:

“Hanya hari ini saya berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tiada berucap kotor yang menjijikan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Karena hanya akan hidup hari ini maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah swt, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunnah, berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfat. Saya hanya akan hidup di hari ini, karenanya saya akan menanamkan dalam hati, semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan, berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, sombong, ujub, riya, dan buruk sangka. Hanya hari ini saya dapat menghirup udara kehidupan, saya akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Saya akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu orang yang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang yang berilmu, menyayangi anak-anak kecil dan berbakti kepada orang tua.”

Saya hanya akan hidup hari ini, maka saya akan mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu. Kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedikitpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

Hari ini milik kita adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang indah dan menyenangkan.



(Bacaan : Dr. A’id Al-Qarny. La Tahzan).


MEMILIH HIDUP DI JALAN DAKWAH


Adil Muhammad, SS.

Taqdim
Hidup memiliki arus kehidupan tersendiri yang terus berjalan sepanjang kehidupan itu ada, ia memiliki sunanul hayah berupa ketentuan hidup yang telah ditetapkan Allah. Salah satu kepastian hidup itu adalah kebaikan akan berakhir pada kebahagiaan sednagkan keburukan akan berakhir sengsara, ini adalah garis kehidupan yang tidak akan berubah.
Itulah jalan yang haus kita lalui, hingga titik akhir memperoleh keridhoan. Dari setitik kehidupan harus kita lalui hingga mencapai kehidupan akhirat, dan jalan bahagia tentunya menjadi kehendak kita.
Dan pilihan hidup kita jatuh pada jalan da’wah, jalan yang kita yakini sebagai jalan mulia yang berujung bahagia. Maka, ada banyak pelajaran dalam ragam suasana yang kita rasakan di jalan ini perlu uraikan sebagai bekal hiburan untuk betah di jalan ini. Bahagialah kita jika Allah memili kita bersama di jalan ini. Teringat perkataan Allah : “ Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkanmu daripadanya.” ( 3 : 103 ). Alhamdulillah hadaana lihadza……. Nikmat ini tidak boleh diremehkan, kita harus jaga…jangan sampai hilang dari kita. ( 3 : 8 )

Awal Bersama Da’wah
Barang siapa yang tidak benar permulaan kehendaknya,
niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya ( Hikmah )

Renungkan selalu, Mengapa kita ada dijalan ini ?, banyak jawaban untuk itu, tapi yang terpenting kita pahami bahwa da’wah ini sesungguhnya adalah kebutuhan bukan sekedar kewajiban, bahkan lebih dari itu bersama dakwah dalah kesyukuran atas hidayah. Kita harus selalu hidup dinamis dengan menjadikan pesan-pesan dakwah Rasululullah sebagi pemicu gerak……..*
Sisi lain, kebersamaan kita dalam dakwah tidak lepas dari jasa pendahulu kita kenal atau tidak, malaikat senantiasa mencatat pahala dakwah mereka hingga kiamat kelak. Kebutuhan kita pada dakwah karena kita menginginkan seperti mereka dengan nikmat pahala dari Allah. ( Ingat Doa makhluk untuk da’i, HR. Tirmidzi )
Alasan lain, dakwah menjadi penghalang turunnya adzab Allah dan penghalang fitnah bagi keseluruhan makhluk ( Al A’raf : 164, Ali Imran ). Berhadapan dengan dakwah manusia terbagi 3 : shalih linafsisi wa lighairihi, shalih linafsihi qat, Dzolim lidda’wah wa lighairihi. ( Al A raf : 165, hadits ma. Tentang pertanyaan zaenab pada Rasul, juga Abubakar ), bersama da’wah semoga menjadi langkah penyelamatan terhadap diri dan manusia.
Sebelum memulai perjalanan bersiap siagalah : 1. siapkan kondisi psikis ( terutama niat yang tulus ) dan fisik terutama saat meghadapi jalan panjang berliku melelahkan atau jalan nikmat melenakan. 2. pilih teman yang baik ( ar rafiiq as ahaleh qabla ath thariq ) dan biarkan Allah yang memilihkan teman bagi kita. Mereka itulah yang disinggung Allah sebagai pemenang ( 3 : 104 ). 3. diantara syarat perjalanan adalah pemimpin, setelah itu beramal jama’i adalah keniscayaan, tsiqoh dan ta’at pada syuro adalah rambu kesolidan.
Jalan ini, adalah miniatur perjalan hidup sesunggunya, akan banyak permasalahan dalam interaksi, namun tetaplah bersama merangkai pelangi yang terlihat ditengah keragaman warna, toleran, ukhuwah, tsiqah adalah kekuatan yang akan menghimpun hingga ke akhir jalan bahagia. Tapi jalan ini, tetap saja menyimpan karakter yang perlu kita tahu, ada 3 kelompok manusia di jalan ini : Dzolimun linafsihi ( lalai dari bekal ), muqtasidun ( berbekal secukupnya ), sabiqun bil khairat ( yang berobsesi meraih keuntungan maksimal dengan bekal maksimal ). Fatazawwadu…..

Membangun Kebersamaan
Ingatkah kita analogi dakwah Rasul ? dakwah adalah bangunan sejak awal kenabian dan Rasulullah menjadi penutup yang akan memperindah bangunan dakwah itu ( istimroriyah ad dakwah ), sehingga dakwah sesungguhnya adalah estafeta perjuangan hingga akhir kehidupan. Bagunan itu harus kokoh karena perlu kualitas batu bata yang baik dengan posisi beraneka ragam, bahkan terkadang perlu memotong batu batu itu. Disanalah seni kehidupan kita, benar-benar unik dan khas, kita pun memiliki kekhasan sebagaimana sahabat Nabi dulu, karenanya bertahanlah pada posisi dimana bangunan ini menghendaki.
Hal lain yang penting di jalan ini, bahwa kita sesungguhnya kaum penolong, bukan yang akan ditolong. Karena idup kita untuk kemashlahan besar. Hidup milik Allah, milik umat bukan pribadi. Karena peruntukan prbadi akan sirna, dan kebaikan umum itulah yang abadi. ‘’ innalladzina ya’idzuna linafsihi, yaisyu shagiran wa yamuutu shagiron. Walladzi ya’isy liummatih, ya’isyu adziman kabiran wa laa yamutu abada. ( Sayyid Quthb ), Jika engkau menolong ( agama ) Allah………Muhammad : 9
Kebesamaan kita paling tidak harus terikat pada 5 hal : rabtul aqidah, rabtul fikroh, rabtul ukhuwah, rabtut tandzim, rabtul ahdi. Semoga ikatan ini memelihara kita dari keterhempasan. Berhati-hatilah dari : su’ul fahm, al khauf wa wahn, irtibatul fardi.

Menikmati perjalanan.
Barangkali manusia mengira kitalah orang yang paling merugi, karena banyaknya pengorbanan, energi dan konstribusi yang kita distribusikan untuk kepentingan perjuangan, biarlah mereka menyangkakan itu, tetapi bagi kita kenikmatan bersama dalam barisan dakwah dan obesesi pertemuan dengan Allah lebih besar dari sekedar apa yang kita persembahkan. Karenanya, bertahanlah…dan jangan peduli apa kata mereka para pencibir dakwah. Senantiasalah bersama dan luruskan niat. Sabda Rasul :“tiga hal yang mengalangi kedengkian orang muslim. Keikhlasan, nasihat kepada pemimpin dan berpegang pada jama’ah.” ( HR. Tirmidzi )
Ya, kewajiban kita memang lebih banyak dari waktu yang tersedia. Karenanya Islam banyak mengarahkan kita untuk menghargai memaksimalkan waktu yang kita dapat. Dalam perjalanan ini, sekali lagi…interaksi antar juru dakwah menjadi sentral perhatian demi kekohan struktur dakwah. Ta’aruf, tafahum dan takaful adalah keharusan bagi kita untuk selamat dari fitnah perceraian dalam melewati jalan ini. Siapa yang tidak terhimpun dalam al haq dia akan diceraiberaikan oleh kebatilan.
Yang tak terlupakan adalah, kenikmatan membina diri dan orang lain. ( la an yahdiyallahu bika….HR Bukhari )
Di sisi lain, Bukan tidak mungkin dalam jalan ini, ada fenomena tidak mengenakkan dalam kebersamaan. Tapi dakwah mengajarkan pada bahwa jika bertemu dengan situasi tersebut maka pertama bercerminlah pada diri sendiri. Kaji yang tersirat bukan yang tersurat. ( ingat kisah Musa dan Khidir dalam al Kahfi ), tapi bukan berarti, tidak ada cacat dal jama’ah dakwah, hanya menghukumi tidak hanya pada dzohir saja. Ya, kita semua manusia..kecewa dan salah sangat mungkin, tapi haruskan bangunan ini roboh, ingat perjuangan awal kita. Sahabat Rasul pun demikian, ini bukan justifikasi tetapi seni yang harus dilalui tanpa mengorbankan dan mengikis persatuan. Kita punya mekanisme, mari berjalan diatasnya.
Yang cukup besar adalah spektrum politik sebagai salah satu ketetapan langkah yang dilalui dan masih saja menimbulkan kontrofersi sengit pada tataran praktisnya, begitulah kira-kira satu langkah yang harus dilalui menuju kebahagiaan. Tapi akankah kita juga turut membenturkan antara dakwah dan politik? Atau kita sendiri pun masih terus saling berbenturan? Kita akaui, wilayah ini adalah wilayah rawan, kesalahan sekali lagi sangat mungkin dan merupakan resiko sebuah aktifitas, karena kita bukan malaikat, tapi yang terpenting, mari kita perilahara dominasi kebaikan saudara dan menjadikan kesalahan sebagaii pelajaran, mundur dari dakwah bukan jalan terbaik. Nasihat adalah tiang penyangga bangunan kita.
Perjalanan Tanpa Ujung ; Bekal Ruhiyah Meringankan Langkah
Perjalanan melelahkan, lelah akan menjadi beban ketika diraskan sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka kesempitan dalam jalan ini menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmah Allah Swt. Bekali diri senantiasa dengan : keyakinan, ta’abbudiya, saling medoakan ( asy Syuara : 26 ), dan baca siroh pada da’i shalih mushlih.
Biarkan keletihan menjadi energi, kesulitan menambah kekuatan, potensi menjadi tergali dan bergerak menuju manusia paripurna.
Yang pasti perjalan ini tidak boleh berhenti, karena memang jalan ini tak berujung, bahkan usia dakwah lebih panjang dari usia kita, wariskan gerakan, hingga Allah tunjukkan Kebahagiaan hakiki bertemu dengan-Nya dalam ridho-Nya.
Amin Yaa Mujiibud da’watis saailiin.

Wallahu A’lam.
17.15 - 19.05, di Ar Rahmah 12 September 2008
Taujih Tarbawiyah 12 Ramadhan 1429 H

Rabu, Februari 25, 2009

Memoar Da'i

“Jika seorang hamba di pagi dan sore hari, tidak mempunyai keingingan apapun kecuali Allah SWT semata. Maka Allah akan memikul seluruh kebutuhannya. Allah akan memberikan semua yang menjadi keinginannya. Mengosongkan hatinya untuk cinta kepadaNya. Menjadikan lisannya berdzikir kepadaNya. Menjadikan semua anggota tubuhnya memenuhi ketaan kepadaNya.” (Ibnu Qayyim)

Dakwah merupakan aktivitas yang teramat mulia. Dimana orang-orang yang berjuang di jalannya adalah orang-orang pilihan yang akan mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda dari sisi Allah SWT. Berbagai ujian dan cobaan di jalan ini telah nyata terlihat, karenanya jalan ini hanya mampu dilalui oleh orang mukmin yang ikhlas dan memiliki keteguhan hati.

Ikhwah fillah....Menjadi seorang aktivis da’wah, banyak hal yang harus menjadi komitmen dirinya dan konsekuensi baginya agar gelar yang disandangnya sebagai Sang Aktivis Da’wah itu dapat terlihat berbeda dengan yang lain dan tergambarkan dalam setiap aktivitasnya. Karena itu, sang aktivis da’wah tidak lantas harus merubah penampilan untuk terlihat berbeda. Menjadi Sang Aktivis Da’wah bukan menjadi sosok atau fisik yang baru, “Akan tetapi, kalian adalah Ruh Baru yang mengalir dijantung umat ini, lalu menjadikan jantung itu hidup dengan Al-Qur’an, kalian adalah cahaya baru yang bersinar, lalu menyirnakan kegelapan materialisme dengan ma’rifatullah, kalian adalah suara yang bergema dan meninggi yang memantulkan kembali seruan Rasulullah SAW....” Ruh adalah gerak, langkah dan kehidupan, ia adalah gerakan yang terbimbing, langkah yang pasti dan kehidupan yang jelas konsep dan tujuannya.
Saudaraku....
Bila kita mengaku sebagai Sang Aktivis Da’wah, maka tidak ada pilihan lain, selain mengkondisikan diri kita dengan didikan Al-Quran, cahaya islam dan power keimanan sehingga seakan kita hidup kembali setelah meninggal. Sebab, Al-Quran adalah Ruh. Allah berfirman “ Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S.Al An’am:122)
Dengan Al-Quran, kita seakan mendapat ruh baru, menjadi cahaya baru yang menerangi jalan umat. Hendaklah kita mampu menjadi motivator, dinamisator dan penggerak berbagai sektor yang ada disekeliling kita. Kita segarkan organisasi-organisasi yang ada dan kita pompakan lagi semangat kita keseluruh sendi kehidupan.
Saudaraku yang dimuliakan Allah...
Sebagai seorang aktivis da’wah, kita harus selalu kuat, sebab hal itu lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT. Kekuatan itu bukan hanya sekedar kekuatan fisik, yang terpenting adalah kekuatan maknawiyah, kekuatan akidah ataupun kejiwaan, termasuk skill, tsaqofah dan fikriyah. Agar dapat menjadi sang aktivis da’wah yang kuat, maka kita harus bersemangat menghadapi tantangan da’wah baik berupa ujian maupun kenikmatan. Jangan pernah merasa tidak mampu untuk melakukan suatu kerja da’wah, namun juga jangan merasa sombong bahwa kita pasti bisa melakukannya, meminta tolonglah kepada Allah agar kita dapat memberikan yang terbaik untuk da’wah ini. Suatu kegagalan bukanlah untuk diratapi, tetapi untuk dievaluasi dan diambil pelajaran (ibrah-nya).
Saudaraku .....
Sebuah peristiwa yang menggembirakan dan momen yang membuat ana merasa bangga atas hasil yang kita capai, namun jika tidak diwaspadai terkadang membawa ancaman yang membahayakan. Sebuah peristiwa yang menyenangkan, jika tidak disikapi secara benar, dapat melenakan kita ke dalam rantai peristiwa yang menyakitkan. Bersikap waspada adalah pilihan yang paling tepat, justru saat kita melakukan banyak amal-amal shalih dan ketaatan. Disaat Allah menganugrahkan prajurit da’wah dengan jumlah yang cukup banyak, maka peliharalah kemurnian ruh & perjuangannya, jangan biarkan gerak itu hampa, tanpa bekas. Jangan biarkan aktivitas yang kita lakukan dijalan ini terasa sama dengan aktivitas kita diluar sana, Karena orang2 muslim semestinya punya ciri khas yang berbeda, terutama dalam kekuatan semangat & kemurnian geraknya. Rasakanlah getar-getar hati yang tersembunyi, saat kita mulai merasakan cukup dan puas dengan amal-amal yang sudah kita lakukan. Karena sejatinya kita memang tidak pernah tahu kualitas dan penilaian amal kita di sisi Allah SWT. Introspeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan, akan memotivasi kita untuk terus memperbaiki diri dan menyegerakan amal shaleh sebelum waktunya terlambat
Wahai Saudara sejatiku.....
Mari kita tatap bersama jalan yang terhampar dihadapan. Ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya itu. Lanjutkan perjalanan kita! Waspadailah segala ketenangan di jalan ini. Berhati-hatilah dengan berbagai kemudahan yang kita temui di sini. Ada banyak fatamorgana yang menipu dan ada banyak bisikan yang menyesatkan, ketika kita menganggap remeh hal-hal yang sepertinya kecil.
Perkuatlah ruhani kita, melebihi dari kekuatan dan kehebatan lahir kita. Perhatikan dia, lebih dari perhatian kita terhadap kebutuhan lahir. Hiasilah ruhani kita, lebih baik dari hiasan luar diri kita. Karena sesungguhnya itulah yang menjadi Catatan Bagi Sang Aktivis Da’wah...
Tetaplah bersemangat, karena bisa jadi dengan semangatmu itu mampu menyemangati pula saudaramu yang lain, Janganlah berlama-lama dalam kelesuan karena da’wah ini hanya bisa diusung oleh orang-orang yang pemahaman keislamannya benar & semangatnya berkobar. Allahuakbar!


Syakwah Syekhuna


Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami.
Rukunkan antar hati kami.
Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.

Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami
kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan,
pengkhianatan dan kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami,
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu. Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
sebagai musim bunga hati kami.
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh
dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim
dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa
dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa
dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam
dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat,
pasukan sekutu Ahzab angkara murka Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus
dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami
dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba
dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu
yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi
yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami,
ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan
semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu
Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami.
Jangan jadikan kami pengkhianat
yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

Doa ini dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin.

Tegarlah Kawan ( untuk Adikku yang "tercaci" )





Kawanku...mungkin bagimu aku juga pencacimu
tapi kucoba berekspresi..dengan sebuah pesan ketegaran
____________________________________________

wahai para pencaci
cacilah kawanku sepuasmu
semua kabar itu akan masuk dalam keranjang
dan kami akan pungut bersama perlahan
menjadi mutiara pahala di sisi Tuhan kami

menjadilah kawan kami, wahai para pencaci
kita sulam bersama tirai yang sobek
menjadi kain suci penutup aib


kawan...
selama tak sadar akan aib sendiri
kita memang mudah mencela orang lain
tapi kala kita intip aib sendiri
sadarlah kita tak seorang pun tak beraib

karena itu..
orang yang mencari kesempurnaan tanpa cela
takkan berkawan selamanya

tapi wahai semua,
tetaplah mencaci jika itu memuaskan kalian
kami bahagia, dengan bahagiamu

____________
aqsa kawanku
cobalah untuk tegar sekali lagi
aku akan tetap setia bersamamu
sampai Allah meniadakan kita
karena syahadah mengajak bersama Sang Maha Ada

Saudaraku...
Meski seluruh dunia bersepakat membencimu,
Jika Allah bersama kita..jangan peduli !


Senyummu Semangatku

Pagi ini kau begitu bergairah
nampak dari senyummu
begitu berani menantang duka
seakan resah tak punya bilik di jiwamu

Kawan,
kau semangatku

darimu mengalir deras energi
yang membawaku kuat menantang kelemahan jiwa

Tetaplah berjabat
meniti jalan panjang menuju ridho ilahi

kutak ingin terhalang tirai darimu lagi
cukup sepekan membuatku sesak tanpamu
tanpa ceriamu
tanpa nasehatmu

Kini, jalan terang itu kutemui
menyinari gelapnya jiwa
dengan tawadhu menghadang kesombongan
dengan tegar menghilangkan kecengengan
itu pesanmu yang sarat tenaga

Ya...mendengar dan tegar
adalah dua komitmen persaudaraan karena Allah
yang membuat kita menyatu kembali
dalam aliran darah yang sama
dalam nadi dakwah dan ukhuwah

senyum pagimu membawaku pada ketenangan dan semangat
.

Kepada istriku

Kepada Istriku..
Aku ingin mencintaimu dengan indah
seperti indahnya taman surga

Kepada Istriku..
Aku ingin mencintaimu dengan lembut
selembut sutra dan tetesan iar mata

Kepada Istriku......

aku ingin melihatmu tenang
setenang mentari dan sinar pagi

Kepada Istriku..
aku ingin menyayangmu
seperti sayangnya engkau padaku



RSS Untukmu

Di atas tanah sepetak ini
mari kita bangun sebuah rumah

sederhana saja...
Cukup pintunya dari emas,
beratap berlian yang lantainya dari mutiara

tak usah megah
biarkan dindingnya tegak dari intan saja
bahkan biarlah gentingnya dari mutu manikam sahaja

Senin, Februari 23, 2009

Kemana Hatiku Pergi?



Bibir berucap tasbih menyucikan Dzat-Nya
Tapi, hati berpaling entah kemana
Apa arti ruku' sujudku bila hati menghilang?

Senja menjelang maghribpun datang
Terdengar suara adzan berkumandang
Hatiku, Kemana hatiku?
Kenapa belum juga kembali?

Allahu Rabby,,,

Engkau menilai kami dari bongkahan daging ini
Bagaimana kami akan pertanggung jawabkan
Bila kini, waktu merendah diri telah tiba
Hatiku tak kunjung datang kembali memuja
Ilahi Rabby...
Ampuni hamba sungguh tiada sanggup bila tanpa pertolongan-Mu.
Wahai Dzat pembolak balik hati
Tetapkan hati ini dalam keimanan pada-Mu
Tetapkan agar selalu mencintai-Mu

Doa Buat Sahabat




Puji itu hanya milikmu wahai Tuhan penentu segala takdir. Selawat dan salam buat Rasul junjungan petunjuk sepanjang zaman, Nabi Muhammad s.a.w dan ahli keluarga serta para sahabatnya yang umpama bintang-bintang bergemerlapan.

Ya Allah…
Dalam perjalanan kehidupan ini telah Engkau jadikan bagiku seorang teman. Sedangkan ia adalah diluar jangkauan dan sangkaan hambaMu ini. Aku tetapkan baginya satu peraturan yang hanya Allah yang akan menentukan segalanya.


Ya Allah…
Dalam kekalutan begini, dia pergi menyendiri dan hanyalah dititipkan suatu pesanan melalui seorang teman buatku. Dimanakah salahku wahai Tuhan dan tunjukkanlah dimana silapku. Jangan Engkau biarkan aku begini tanpa diketahui apakah kesalahan yang telah aku lakukan terhadapnya.

Ya Allah...
Walau apa pun takdirMu keatasku, maka disaat ini aku tahu dia perlukan pertolongan. Oleh itu wahai Tuhan, aku dengan penuh rasa kehambaan yang penuh kehinaan memohon padaMu bagi pihaknya, kerana dia adalah sahabatku.

Ya Allah..
Ampunilah daku dan sahabatku dan masukkanlah kami kedalam rahmatMu dan Engkau adalah Tuhan yang maha penyayang.

Ya Allah…
Jangan Engkau tinggalkan untuknya suatu dosa melainkan telah Engkau ampunkan. Dan tiada suatu aibnya, melainkan telah Engkau tutupinya. Tiada suatu dukanya melainkan telah Engkau hilangkan daripadanya. Tiada suatu hutangnya melainkan telah Engkau bayarkannya. Tiada suatu kesakitan melainkan telah Engkau sembuhkannya. Tiada suatu hajatnya dari keperluan dunia dan akhiratnya yang telah Engkau redhai dan tepat untuknya melainkan telah Engkau tunaikan segalanya baginya wahai Tuhan yang Maha Penyayang.

Ya Allah…
Lindunglah sahabatku dari hilangnya nikmatMu dan berubahnya kesejahteraanMu dan mendadaknya seksaMu dan berbagai macam murkaMu.

Ya Allah…
Sungguhnya aku bermohon kepadaMu tabahkanlah dia dalam menghadapi segala urusan dan kekuatan dalam menerima petunjukMu.

Ya Allah…Kurniakanlah kepadanya jiwa ketaqwaan dan sucikanlah. Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.

Ya Allah…
Sungguhnya aku bermohon kepadaMu bagi pihaknya dengan sabaik-baik permintaan, sebaik-baik permohonannya, sebaik-baik kejayaannya dan sebaik-baik pahala baginya. Tetapkanlah untuknya, beratkanlah timbangan kebaikannya. Mantapkanlah imannya, tingkatkanlah darjatnya, terimalah solatnya dan ampunkanlah dosa-dosanya. Ya Allah, aku bermohon baginya kepadaMu tingkat yang tinggi di syurga. Ya Allah perkenankanlah permohonanku.

Ya Allah…Sungguhnya Engkau mengetahui apa yang aku rahsiakan dan apa yang aku perlihatkan, maka ampunkanlah kealpaan dan kelalaiannya. Dan Engkau mengetahui segala hajatnya, maka kabulkanlah permohonannya. Ya Allah, aku bermohon baginya kepadaMu keimanan yang selalu mendampingi hatinya, dan keyakinan yang kuat sehingga dia mengerti bahawasanya tidak akan menimpa dirinya kecuali apa yang telah Engkau tentukan baginya dan bahawasanya apa sahaja yang telah menimpa dirinya bukanlah semata-mata yang meluputkannya. Dan apa sahaja yang telah meluputkannya bukanlah yang semata-mata menimpa dirinya.

Ya Allah…
Aku bermohon baginya kepadaMu iman yang dia buat cari kebenaran. Cahaya yang dia jadikan ikutan dan rezeki yang dirinya cukupkan. Ya Allah…jadikanlah dia cinta kepadaMu dengan hatinya seluruhnya dan rela kepadaMu dengan segala kemampuan dirinya seluruhnya. Ya Allah… jadikanlah cintanya seluruhnya hanya kepadaMu dan amal perbuatannya seluruhnya hanyalah untuk mencari keredhaanMu.

Ya Allah…
Apa saja yang Engkau jauhkan darinya dari hal-hal yang dia cintai, jadikanlah hal itu sebagai penguat untuknya mencintai apa yang Engkau cintai dan jadikanlah cintanya kepadaMu sebagaimana Engkau mencintai.

Ya Allah…
Cukuplah diriMu bagiku, tiada Tuhan selain Engkau. Hanya kepadaMu aku bertawakal. Dan Engkaulah Tuhan yang memiliki arasy yang agong.



Sahabatku membuatku mengerti...


Yang aku alami ...

Saat aku memberikan perhatian, dia tidak menghargainya...
Saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatku... Saat aku bersikap ramah, dia terkadang bersikap sinis padaku...
Saat aku butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindariku...

Lalu aku mengerti
sebenarnya hal-hal yang aku alami sedang mengajariku...

saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatku...
Sebenarnya dia telah mengajarkanku agar tidak berprasangka buruk & selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia tidak melihatku...

Saat aku bersikap ramah tapi dia terkadang bersikap sinis padaku...
Sebenarnya dia sedang mengajariku untuk selalu bersikap ramah pada siapapun...

Saat aku butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindariku...
Sebenarnya dia sedang mengajariku untuk menjadi seorang sahabat yang bisa diajak berbagi cerita, mau MENDENGARKAN keluhan sahabatnya dan membantunya...
satu lagi : dia mengajariku untuk hidup di atas kakiku

Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering aku alami atau bertemu dengan orang2 yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan...
Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak dipedulikan/dicuekin, tidak dihargai, atau bahkan mungkin dicaci, dihina dan di fitnah......
Sebenarnya orang2 tsb. Sedang mengajariku untuk melatih membersihkan hati & jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajariku untuk tidak berprilaku seperti itu...

Mungkin Tuhan menginginkan aku bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum aku bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanku dan aku harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku...


Selasa, Februari 17, 2009

Aku Sadar


bacalah artikel berikut ini seperti layaknya Anda seorang Motivator

1. Aku dilahirkan untuk menjadi PEMENANG.

Keyakinan pertama yang harus aku miliki sebagai anak manusia adalah keyakinan bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang. Aku percaya bahwa tidak mungkin Allah menciptakan aku ke dunia ini, tanpa alasan apapun. Tidak mungkin! Pasti ada alasannya, bukan? (tarik nafas perlahan sebentar)

Nah, jika aku berani lahir, maka aku juga haruslah berani mati (karena aku pasti mati, bukan? ) Lalu, sekarang mati seperti apa yang aku inginkan? (tarik dan tahan nafas yang lama…) Baiklah, sekarang pilihan aku sebagai manusia yang hidup, yang masih bernafas, yang masih beredetak jantungnya, hanya tersisa satu pilihan saja, bukan? Yakni aku ingin mati sebagai apa? Ingin dikenang sebagai siapa?

Karena aku yakin bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, sudah sebaiknya pula aku memilih mati minimal sebagai pemenang. Pemenang seperti apa, itu persoalan lain. Yang penting pilihannya adalah kembali ke Sang Khalik sebagai seorang pemenang.
Lalu, setelah sadar bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, berarti aku sekarang harus bangun dari biusnya tidur. Oke, setelah bangun bukankah diperlukan kekuatan, diperlukan keberanian, diperlukan…? Ya

2. Memang diperlukan keberanian untuk melangkah maju ke depan. Namun, bagaimana berani (tahan nafas sebentar) kalau aku tetap diam di tempat?

Baiklah aku segera berdiri dan mulai melangkah. Langkah pertama, langkah kedua dan langkah ketiga, tapi oh..oh.. lihat apa yang ada didepan jalan. Ah, kayaknya agak mendung, agak redup, agak berkelok, agak licin. Ehm, bisa-bisa terpeleset, tergelincir, bahkan terpental saat diperjalanan? Ya, bisa saja. Namun, aku yakin aku berani

3. Daripada hanya berdiam diri… Melangkah dan mungkin tergelincir (tahan nafas sebentar) adalah pilihan yang jauh lebih baik! (tahan nafas sebentar) Ada banyak pelajaran di sana…

Apakah benar dengan tergelincir aku malahan belajar? Betul, bila aku bisa merasakan sakitnya tergelincir, maka pasti aku akan menghindari berbuat kesalahan yang sama. Akupun akan mencari ide-ide lain yang lebih baik, lebih tepat guna, lebih kreatif, lebih produktif.

Kesalahan yang terbesar adalah aku tidak pernah melakukan sesuatu, bahkan mencobanya pun tidak pernah, malah pikiran aku sering “merancang” imajinasi rasa sakit yang belum tentu terjadi dari sebuah kesalahan atau kekeliruan di masa mendatang. Astaga, ngeri sekali bukan? Karena aku merancang ketakutan, maka seringkali aku hanya berdiam diri. Namun aku sebenarnya percaya bahwa… (baca kalimat berikut ini dengan sangat keras!!!)

4. Orang yang berani bangkit dan belajar dari kegagalan adalah PEMENANG SEJATI!

Cukup kuat dampaknya untuk membangkitkan semangat paling dalam dari diriku. Di dunia ini banyak sekali cerita orang yang pernah mengalami kegagalan dan setelah itu tidak ada lagi ceritanya. Apakah aku mau seperti mereka? Habis terbit, kena awan gelap dan menghilang tanpa bekas? Gone with the wind…

Ah, aku kan bisa punya pilihan lain. Aku ingin jadi pemenang atas diriku sendiri. Cerita kehidupan yang hanya bisa dibagikan adalah cerita

kebangkitan, bukan cerita kegagalan. Wah, jika aku tidak pernah bangkit, maka habislah pula cerita hidupku. Percuma dong aku dilahirkan. Baik, baiklah dan baiklah! (silahkan teriak dalam hati ) Sekarang aku tanamkan dalam benak aku bahwa aku HARUS bangkit, kapanpun saat aku mengalami apa yang disebut orang lain adalah kegagalan. Karena aku yakin dan percaya bahwa…

5. Apa pun SAYA BISA jika saya mau!

Kuncinya adalah kemauan, bukan kemampuan. Orang yang memiliki kemampuan, jika tidak ada kemauan, bagaikan mayat hidup yang tidak tahu mau kemana. Gak bedanya dengan hidup luntang lantung, gak ada tenaga, gak ada semangat, gak ada spirit, gak nafsu deh hidup kayak gitu. Hidup ini adalah pilihan, kok. Aku bisa memilih sedih (hening 3 detik) , aku bisa memilih senang (hening 2 detik). Aku bisa memilih marah (hening 1 detik) dan aku bisa memilih tenaaang. Nah, jika…

6. Hidup ini adalah pilihan. Aku memilih menjadi orang yang bahagia ….

Aku tahu memang sebuah pilihan yang tidaklah mudah, namun aku harus mulai belajar berani memilih dan memutuskan kemana arah hidupku. Apa pilihan hidupku? Akulah yang harus menentukan arah jalan hidupku. Akulah yang menentukan titiknya… Besar titiknya… Warna titiknya… Bunyi titiknya… Rasa titiknya… Sinar titiknya… Sinar biasa atau sinar sebuah BERLIAN? Kecil bentuknya (tahan nafas sebentar, lalu katakan dengan keyakinan kuat), namun silau sinarnya. Kekuatan silau sinar berlianlah yang membuat aku tidak mungkin kehilangan arah. Walau disekitarku kadang mendung, kadang redup, kadang gelap. Karena…

7. Semakin aku fokus pada impianku. Semakin cepat aku mencapai impianku.

Fokus menghasilkan energi yang besar, bahkan semakin lama semakin dahsyat. Fokus membuatku bersemangat, berenergi, berkeringat, tetap panas karena membantu aku untuk selalu bergerak. Bergerak melangkah, bergerak lari, bergerak ke arah silau sinar berlian yang memimpinku. Karena fokus, maka apapun situasi disekitarku, tidak akan membuatku terganggu. Jalan yang berkelokpun, kujalani…. Jalan macetpun, kunikmati… Jalan berbatupun, kelewati… Jalan terhalangpun, kulampaui… Karena arah fokusku jelas, arah menuju sinar berlian, sinar tujuan hidupku… Silau namun indah. Maka, aku tidak akan pernah menunggu situasi. Dan sebaiknya…

8. Berhentilah menunggu kondisi membaik. LAKUKAN SESUATU agar kondisi membaik.

Itulah motto hidupku. Banyak hal diluar jangkauan kemampuanku, keadaan alam semesta, keadaan negara, keadaan masyarakat dimana aku berada. Buat apa aku fokus pada sesuatu diluar kendaliku. Lebih baik aku fokus pada sesuatu yang bisa aku kendalikan, bukan? Sesuatu yang bisa aku jangkau, sesuatu yang bisa aku buat lebih baik. Jadi aku pikir, sebaiknya aku fokus saja pada karya. Ya, berkarya, berkarya dan berkarya…

Sekarang setelah aku sadar, aku bangun, aku bangkit dan aku berkarya, aku fokus pada karyaku, maka selanjutnya…

9. Aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh.

Selanjutnya, biarlah Allah yang menentukan. (Florence Griffit Joyner)

(Sekarang katakan dalam hati dengan rasa keyakinan yang kuat)
BENDERA SUDAH DIKIBARKAN.

(lebih perkuat lagi rasa keyakinan Anda)
MAKA KIBARKANLAH SETINGGI MUNGKIN.

(tingkatkan rasa keyakinan Anda sekuat-kuatnya) KIBARKANLAH BENDERA KEMENANGAN KEPADA KEHIDUPAN.

KEHIDUPAN YANG BERHIKMAH.

E.R.A. Mengajakku ke Masa Dewasa


Sudahkah Aku Dewasa ?

Banyak orang yang menganggapku dewasa
Tetapi hatiku masih gampang terluka
Karena masalah yang amat kecil
Lalu, Sudahkah Aku Dewasa ?

Banyak orang yang menganggapku dewasa
Tetapi tidak memperhatikan perasaan orang lain
Karena sifat kekanak-kanakanku tidak dapat dikalahkan
Lalu, Sudahkah Aku Dewasa ?

Banyak orang yang menganggapku dewasa
Tetapi hanya dapat melihat suatu masalah dari satu sudut pandangku saja
Karena aku tidak pernah merasakan apa yang orang lain rasakan
Lalu, Sudahkah Aku Dewasa ?

Banyak orang yang menganggapku dewasa
Tetapi masih meminta pendapat orang lain
Karena aku tidak yakin apakah pendapatku benar
Lalu, Sudahkah Aku Dewasa ?

Banyak orang yang menganggapku dewasa
Tetapi tidak dapat merasakan penderitaan orang tua selama hidupnya
Karena pergaulan yang tidak mengenal peradaban masa lalu
Lalu, Sudahkah Aku Dewasa ?

Banyak orang yang menganggapku dewasa
Tetapi hanya dapat menikmati hasil karya orang lain
Karena kemalasan dan gaya hidup yang populer
Lalu, Sudahkah Aku Dewasa ?

Akan tetapi, Kini...
aku mulai belajar dewasa
telah banyak pelajaran kulalui
kutemui tiga guru penting dalam perjalanku
Akankah aku dewasa ?

E. Mengajariku untuk merasakan arti pentingku ( Emosi )
R. Mengajariku untuk menyadari akan arti diriku ( Ruh )
A. Mengajariku untuk memikirkan tentang masa depanku ( Akal )

E.R.A.* Mengajakku ke Masa Dewasa

Kini, aku harus terus belajar
Hingga kedewasaan tidak menciptakan malapetaka yang dashyat
Karena menganggap diriku lebih dewasa dibandingkan masyarakat sekitarku

*Edi, Rasdin, Aqsho ( Mahasiswaku yang peduli padaku )
Jazahumullah

Sabtu, Februari 14, 2009

Sahabat ! Duka telah membuat resah jiwa kita




Refleksi atas ukhuwah yang tersekat, Mari berbenah





Gamang, mengisi hari-hariku
Tapak kakiku pun menjadi goyah bahkan tak sanggup lagi melangkah
Namun...
Adakah gundah gulana akan mengembalikan semua kenangan indah?

Dia pun sepertinya sama
Raut wajahnya kuyu dan kusam. Mata sayu menahan isak tangisan.
Kepedihan masih terasa menyayat dan menggurat,
menghela tumpukan gundah di dada yang semakin membuncah.


Perlahan rapuh meranggas jiwa hingga raga lelah dan kalah.
Rasanya Pupus segala harap, melukai indahnya impian masa depan.
Perih menatap setiap sudut rumah, apa yang tampak seperti ingin bercerita.

Hati kecil kami ingin berontak, namun kenyataan tak dapat diingkari dengan mudah. Tak kuasa jiwa menahannya, tumpah, dalam derai air mata.

Dalam sesegukan yang memilukan, terbentang serpihan siluet kenangan.

Bagiku Sederhana...
Hanya sepatah kata yang dapat menggambarkan sosok dirinya.
Lelaki itu memang biasa saja.
Namun, setiap sentuhan dan ucapannya selalu bermakna cinta yang teramat dalam.
Ia pun tak pernah ragu menantang kerasnya kehidupan bersamaku.
Bau keringatnya selalu menebarkan aroma pengabdian.

Lelaki itu sungguh biasa saja..
Ia hadir saat hati ini telah terlalu lelah berharap
lalu berikrar untuk selalu bersama dalam sebuah ikatan persaudaraan.
Tak ada yang dijanjikannya, kecuali hasrat menyulam pinta keridhaan Sang Pencipta. Waktu pun bergulir indah, bersama mengecap manisnya ukhuwah yang tulus

Hari-hari yang telah berlalu menjadi begitu penuh warna.
Ceria selalu mengisi rongga dada.
Resah yang terkadang singgah, terhapus oleh kebesaran jiwa.

Duhai Pemilik Cinta, betapa sujud panjang dan tetesan air mata kesyukuran, seakan tak ada artinya dengan apa yang telah Engkau berikan.

Hingga...
Badai menerpa. Laut bagaikan bergolak, langit pecah dan bumi merekah.
Pengabdian tanpa kenal lelah demi persudaraan yang tulus berbuah derita.
Sakit pun menyiksa hari-hari yang panjang lalu menidurkan sejenak
Duka telah membuat resah jiwa

sahabat yang dikasihi tampak kaku..ia seperti menyerah..
Hanya tetesan air mata kepiluan yang mengiring memecahkan sunyi.
Tak ada lagi tawa canda, hilang sudah untaian nasehat
atau pun lantunan syahdu ayat suci Al-Qur'an saat dirinya masih berada di sisi. Semuanya hanyalah kenangan yang menebarkan serpihan duka,
hingga membentuk anak-anak sungai di pelupuk mata.

Yaa Rabbi...
Sanggupkah diri ini menghadapi sisa hidup tanpa sahabat itu?

Kehilangan sahabat bagi jiwa telah membuat terpuruk jiwa dan raga.
Tegar yang dulu bersemayam, luruh dalam kepiluan dan kekhawatiran.
Jiwa pun tak mampu menahan ketidakberdayaan. Duka yang disengat perpisahan
memporak-porandakan cinta dan hasrat hidup bahagia
Gamang, seakan tak ada lagi tempat berpijak untuk masa depan.

Namun...
ini adalah awal dari sebuah cerita indah dalam kehidupan dua anak manusia,
maka masalah ini bukanlah akhir dari segalanya.
Memang, pasti ada yang hilang. Namun, masih ada banyak tinta pena untuk menulis kisah selanjutnya. Kisah-kisah yang tak kalah indah seperti kisah regukan cinta di malam pertama.

Sungguh tak ringan untuk memahami kenyataan bahwa duka telah memagut cinta,
namun roda kehidupan tak pernah berhenti berputar.
Gundah dan keluh kesah yang tak habis-habisnya pun tak akan memberi mamfaat
Yang terbaik adalah menata hati, jiwa, dan raga demi persaudaraan lebih baik?
Pasti tak mudah untuk membuka mata dan menatap bentangan jalan di muka.
Hidup memang selalu mengukir kenangan,
namun seharusnya hidup juga punya berjuta harapan.

Harapku...
Persahabatan tersulam kembali..
Semoga..

Pagi ini ketika aku melangkahkan kaki keluar rumah.



Ya Allah, aku memohon bisa bahagia dengan orang-orang yang aku temui hari ini.
Aku juga memohon bahwa mereka juga bahagia dengan keberadaanku.
Semua kuserahkan pada-Mu, sehingga tidak perlu ada khawatir dan ketakutan.
Karena aku yakin, setiap harinya akan selalu ada kejutan-kejutan indah untukku. Semoga aku dan orang-orang disekitarku dapat saling belajar
dan saling memberi manfaat.

Ya Allah, maafkan aku jika beberapa hari ini aku rapuh dan selalu mengeluh.
Tapi mulai pagi ini, aku seharusnya bersyukur dengan semua nikmat yang tidak bisa aku hitung. Aku masih bisa bernafas, masih bisa berjalan,
masih bisa ketik munajat ini.

Mohon jauhkan aku dari berkeluh kesah, kesempitan pikiran,
kekotoran hati dan dari kemalasan tubuh ini.

Dan Ya Allah…
Yang membaca tulisan ini ini adalah saudaraku yang baik.
Jaga, sayangi, kasihi, cintai dan lindungi ia selalu.
Mudahkan urusannya, lapangkan hatinya, kuatkan dan teguhkan imannya
agar ia tetap istiqomah di jalan-Mu.
Sambung cintanya yang pernah terputus dengan cinta-Mu yang Maha Agung,
agar setiap waktu, suka dan duka hanya Engkau satu-satuNya
yang menjadi sandaran hidupnya.

Mohon limpahkanlah kasih dan berkah-Mu, yang akan senantiasa memenuhi bumi ini... Selamanya dan selamanya... .

Maha Suci Engkau, Tuhan Segala Kemuliaan. Semoga kesejahteraan atas para Rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam. Amiin
________________________________________
”Ya Allah, berkenanlah Engkau membuat baik agamaku yang merupakan pemelihara urusanku, berkenanlah Engkau membuat baik duniaku yang aku hidup di dalamnya, berkenanlah Engkau membaikkan akhiratku yang merupakan tempat kembaliku. Berkenanlah Engkau menjadikan hidup sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan menjadikan mati sebagai istirahat bagiku dari setiap kejahatan.” (HR. Muslim)

Ajari Aku Ya Allah...


Allah ………
Ajarilah aku tuk terus bersyukur
Bahkan sampai diriku ada dalam keadaan
Paling teraniaya
Ajarilah aku agar terus menjadi orang baik
Bahkan ………
Ketika dunia sekalipun tak sanggup lagi tersenyum

Ajari aku ya Allah ………
Agar selalu bisa tertawa
Setelah menangis
Agar selalu bangkit
Setelah kejatuhan
Agar bisa terus berjalan
Walau aral melintang
Di depan sana
Agar tidak pernah menyerah
Walaupun hampir mati
Ajari aku ya Allah ………
Agar tidak pernah kehilangan cinta
Agar tidak kehilangan kepercayaan
Bahwa masih ada hal-hal baik
Di dunia ini
Yang masih patut diperjuangkan
Ajari aku ya Allah ………
Agar aku tidak menjalani hidup ini
Dengan sia-sia ………

Aku Ingin Ketenangan


Ya Allah...
Jangan biarkan kebencianku pada orang-orang yang menyakiti-ku,
membuat diriku zalim...
Tapi jadikanlah musuhku adalah guru kehidupanku. ..
agar aku bisa belajar janganlah mencontoh perbuatan mereka.
Berikanlah aku kelapangan hati dan kejernihan berpikir,
agar aku sukses mengolah jiwa menjadi hamba yang tenang.
Agar hati ini dipenuhi rasa cinta & kasih sayang pada sesama,
termasuk mengasihi musuh-musuh- ku...

Ya Allah apakah aku bisa memiliki sifat itu ?
Yang aku tahu itu adalah sifat orang-orang suci seperti Nabi Musa, Nabi Isa atau bahkan Nabi Muhammad


Hari ini aku ingin menangis,
untuk melepas sejenak kepenatan diri dalam menghadapi proses kehidupan.
Allah mohon ampuni aku atas segala salah dan dosa dari akil baligh hingga saat ini.
Aku mohon Ya Allah...
Putuskan rantai kejelekan yang ada padaku tidak menurun ke anak cucuku kelak.

karuniakan kepadaku keikhlasan tiada batas dan kekuatan untuk senantiasa melanggengkan setiap amal soleh yang telah, sedang dan yang akan kita kerjakan.

Berikan aku ketenangan Ya Allah!!!!
Berikan aku ketenangan… agar aku dapat meneruskan hidup di muka bumi mu ini……

Selasa, Februari 10, 2009

Saat "Penjaga" Harus Jaga


Muntada

Saudara yang saya cintai karena Allah, memang menjaga hafalan Al-Qur'an lebih berat ketimbang menghafalnya dari nol, namun jangan berkecil hati bahwa bila niat kita baik, ikhlas karena Allah, insya Allah Dia akan membimbing kita dalam menghafal dan menjaga kitab sucinya. kalau Allah ridha kepada kita, maka kemudahan-kemudahan yang akan kita dapati. Berikut adalah beberapa Tips untuk menjaga hafalan Al-Qur’an semoga bermanfaat buat anda khususnya dan buat kita semua yang memiliki tekad yang kuat dalam menghafalkan Al-Qur'an :


Pengaturan waktu

Pandai mengatur waktu akan dapat membantu seorang penghafal Al-Qur’an dalam memelihara hafalannya. Mengatur waktu untuk mengulang-ulang hafalan yang senantiasa terus berkelanjutan, harus terus dilakukan oleh seorang penghafal Al-Qur’an. Biasakan jangan melewatkan waktu tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Rasulullah SAW telah memperingatkan, bahwa hafalan Al-Qur’an akan lebih cepat hilang dan lepas bila dibandingkan dengan seekor onta yang terikat kuat apa bila dia tidak selalu mengulang-ulang hafalannya tersebut.

“ Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor onta dari ikatannya” (H.R. Bukhari)

Menyediakan waktu khusus

Dalam proses muraja’ah (mengulang) hafalan, seorang penghafal Al-Qur’an harus menyediakan waktu khusus, misalnya sebelum atau sesudah subuh, sebelum tidur, sebelum dan sesudah shalar fardhu. Siapapun dia, bila mana sedang menekuni suatu pekerjaan dan memberikan porsi waktu yang khusus, maka dia akan mendapatkan hasil yang tidak akan mengecewakannya. Tengoklah bagaimana kehidupan para Ulama terdahulu dalam pengaturan waktu, sehingga mereka dapat mewariskan karya-karya besar mereka yang sampai hari ini masih menjadi rujukkan. Sabagian mereka wafat diusainya yang belum begitu lanjut, akan tetapi mereka dapat menulis dan menyusun banyak kitab.

Wirid Al-Qur'an

Selain menyediakan waktu khusus, seorang penghafal Al-Qur'an harus memperbanyak tilawah, dia harus memiliki wirid Al-Qur'an yang rutin dia lakukan setiap hari. Usahakan dapat membaca Al-Qur’an minimal satu juz setiap hari, sehingga dalam waktu tiga puluh hari / satu bulan anda akan mengkhatamkan tilawah Al-Qur’an. Sering membaca Al-Qur’an akan dapat memudahkan seseorang dalam menghafal Al-Qur’an.

Menjadi Imam Shalat

Hafalan anda akan selalu melekat dalam ingatan anda apabila selalu anda baca dalam shalat, khususnya saat shalat malam atau qiyamullail. Terlebih saat menjadi imam shalat tarawih di suatu masjid yang antara pengurus jamaah meresa tidak keberatan bila mana sang iman membaca satu juz untuk setiap malamnya.

Mengajarkan orang lain

Salah satu cara yang paling efektif dalam menjaga hafalan adalah mengajarkan orang lain, karena pada saat mendengarkan hafalan muridnya, maka secara tidak langsung dia sedang mengulang-ulang hafalan.

Mendengarkan bacaan orang lain

Banyak mendengar akan memudahkan kita menghafal, cepat hafal, selain sering membaca juga karena sering mendengar bacaan orang lain. Buatlah kesepakan atau janji bersama teman anda yang sedang menghafal Al-Qur’an untuk saling menyimak, sehingga bila mana anda atau teman anda keliru dalam membaca maka saat itulah anda berdua akan saling mengoreksi.

Mendengarkan kaset atau CD Al-Qur’an

Pilihlah salah satu bacaan syaikh terkenal, yang tilawahnya tersebar di seluruh dunia dan cenderung diminati lagunya dalam membaca Al-Qur’an, seperti Syaikh Mahmud Khalil Al-Hushari, Syaikh Muhammad Siddiq Al-Minsyawi, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, Syaikh Abdurrahman Al-Hudzaifi, Syaikh Suud Syuraim, Syaikh Abdurrahman Al-Sudais dll.

Membaca sejarah para penghafal Al-Qur’an

Untuk memberikan motivasi dan semangat baru maka anda juga harus membaca perjalanan para ulama dan orang-orang yang menghafal Al-Qur'an, anda akan dapat mengambil pelajaran dari pengalaman mereka serta dapat memperbaharui semangat anda.

Membiasakan membaca tanpa melihat Mushaf

Biasakan mengulang hafalan tanpa melihat mushaf, karena bila mana membaca hafalan selalu melihat mushaf maka akan ada ketergantung selalu ingin melihatnya. Kecuali apa bila anda sudah tidak dapat melanjutkan bacaan, maka boleh anda melihat mushaf.

Menjauhi kemaksiatan

Jiwa yang selalu berlumuran kemaksiatan dan dosa, sulit untuk menerima cahaya Al-Qur'an, hati yang tertutup disebabkan dosa-dosa yang senantiasa dilakukannya, tidak mudah menerima kebaikan, mentadaburi ayat-ayat Al-Qur'an

?????? ??????? ?????? ?? ??? ???? ???????

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad : 24)

Dalam sejarah tercatat bahwa Imam Syafi'i rahimuhullah tergolong ulama yang memiliki kecepatan dalam menghafal, bagaimana dia mengadu kepada gurunya, Waki', suatu hari dia mengalami kelambatan dalam menghafal. Maka gurunya lalu memberikan obat mujarrab, yaitu agar dia meninggalkan perbuatan maksiat dan mengosongkan hati dari setiap penghalang antara dia dan Tuhannya.

Imam Syafi'i rahimahullah berkata :


Aku mengadu kepada (guruku) Waki' atas buruknya hafalanku

Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan kemaksiatan

Dia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Wallahu 'alam bishshawab.

Ruang Tamu


Tinggalkan Pesan Terbaikmu

Puncak Selera Jiwa

Pojok Hikmah

mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah