Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kategori

Artikel (4) Dakwah (7) Motivasi (3) Muhasabah (11) Munajah (7) Prosa (5) Puisi (18) Tarbiyah (2)

Senin, Juli 06, 2009

Karena Nurani


Senin, pukul 11.30. Seorang saleh tergopoh-gopoh menuju masjid, karena sebentar lagi adzan akan berkumandang. Sebenarnya lelaki itu biasa berjalan kaki dari rumahnya, kendati jarak pulang pergi 3 km. Namun saat itu dia harus berlari dan mengejar kendaraan umum yang bisa membawanya pergi ke mesjid raya.

Tiba-tiba di pinggir jalan ada seorang pengemis menghampirinya dan menadahkan tangan dengan begitu memelas. Orang saleh ini hanya diam sambil terus menunggu kendaraan. Akan tetapi si pengemis yang masih dalam keadaan memelas tetap gigih memohon. Rupanya si lelaki saleh itu tetap dengan sikap tak pedulinya sambil terus memandangi jam tangannya.

Mobil angkotpun datang. Namun tubuh lunglai pengemis tadi menghalanginya untuk naik. Akhirnya si saleh kehilangan kesabaran dan marahpun tumpah.

“ Heh..tahu gak sih, aku sudah terlambat sekarang. Kamu mengganggu saja. Minggir.." Hardik si lelaki dengan suara keras.

Singkat cerita, ia campakkan si pengemis begitu saja. Tanpa melakukan apapun. Sesampainya di depan masjid, ia begitu terkejut karena pengemis itu sudah ada di sana mendahului dirinya. Masih dalam keadaan terkesima atas kejadian ini, si pengemis menepuk bahunya sambil mengatakan sesuatu.
"Aku tidak membutuhkan kesalehanmu, aku hanya membutuhkan kasih sayangmu." Sebuah kata singkat darinya. Seketika pengemis itu menghilang dari pandangan.

Tentang kepedulian dan kasih sayang. Apa iya sih saat ini, kita masih memilikinya? Atau mungkin kita hanya peduli pada hal-hal yang sifatnya lebih sementara?

Coba bayangkan tiga atau empat tahun lagi dari sekarang....

Orang mungkin akan dengan mudah lupa. Lupa dengan IP yang pernah kita dapat, baik A+ atau C+. Lupa akan kata-kata ’hebat’ yang pernah kita lontarkan saat berada di atas mimbar, di lembar-lembar tulisan atau saat kita luapkan di pertemuan dengan teman-teman kita. Begitu juga dengan penampilan, apa saja barang-barang mewah yang pernah kita kenakan, mobil bagus, baju necis, emas berlian, mereka tidak akan mengingatnya.

Namun mereka akan sulit sekali melupakan pada setiap perhatian yang pernah kita berikan, ketika kita bersedia mengajari mereka. Setiap kata yang kita berikan untuk membangun dan menyemangati mereka. Setiap pemberian sederhana yang pernah mereka terima saat mereka butuhkan. Setiap detik yang kita luangkan untuk mereka yang membutuhkan kita.

Mungkin hanya hal sederhana, namun itu adalah sesuatu yang begitu berarti ketika kita memberikannya dengan tulus ikhlas. Ya..dengan ikhlas karena kita berbuatpun bukan untuk dikenang mereka, tapi untuk akhirat kita.

Namun sayang... Mungkin kita adalah orang yang dituntut untuk hidup serba cepat tanpa harus peduli satu sama lain. Mungkin kita adalah generasi yang dididik untuk menyelamatkan diri sendiri sebelum memberi perhatian kepada orang lain.

"Eh dia masuk rumah sakit, mau ikut pergi jenguk gak?" Seseorang mengingatkan temannya.
"Oh..titip salam aja ya. Aku masih banyak urusan lain nih." Jawab temannya

"Eh, aku boleh minta waktu kamu sedikit aja. Aku lagi dalam masalah berat nih!" pinta seorang teman suatu waktu.

"Waduh..entar aja ya! Sibuk kerja nih." Jawab teman yang lain.

Kita tidak pernah tahu seberapa banyak waktu yang tersita untuk segala macam kesibukan yang kita lakukan. Bahwa sebenarnya kita pasti masih punya banyak waktu asalkan kita cukup mau mempunyai rasa peduli pada orang lain. Bahwa kita pasti masih bisa punya perhatian, asalkan kita mau untuk meluangkannya. Itu lebih tergantung dari isi hati kita, dari apa yang ada di dalam kita.

Bukan tergantung dari apa yang ada di luar diri kita. Memilih untuk peduli atau tidak peduli ada di dalam kontrol kita. Bukan dalam kontrol situasi yang ada di sekeliling kita. Ada begitu banyak alasan untuk menjadi tidak peduli; karena kesibukan, karena gengsi, karena malas, karena capek, atau apapun itu. Namun hanya ada satu alasan untuk menjadi peduli yaitu karena NURANI....

0 komentar:

Ruang Tamu


Tinggalkan Pesan Terbaikmu

Puncak Selera Jiwa

Pojok Hikmah

mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah