Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kategori

Artikel (4) Dakwah (7) Motivasi (3) Muhasabah (11) Munajah (7) Prosa (5) Puisi (18) Tarbiyah (2)
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 20, 2010

Selalu Ada Cinta Untukmu


Perjalanan cinta memang sungguh indah namun tetap saja selalu ada lika-liku serta kerikil tajam dan juga kebekuan yang terus saja mencoba untuk mengganggu. Sulit bila dibuat menjadi sulit. Mudah bila memang kekuatan cinta itu dijadikan sebagai inti dan sumber utama.

Kehidupan dunia nyata sekarang ini sungguh sangat berat. Politik, ekonomi, hukum, sosial, semuanya sudah sangat tak menentu. Kepastian sangat sulit untuk dipastikan. Kini pun sangat tidak bisa menjadi pasti. Biarpun mimpi, angan, dan cita-cita tidak pernah bisa dihentikan, namun semuanya menjadi seperti duri yang terus saja menancap di dalam hati dan pikiran. Membelenggu diri dengan menjadi tidak tahu.

Kekasih tercinta yang sangat saya cintai sedang menangis. Air matanya mengalir karena kesedihan atas semua yang terjadi dan atas semua yang harus dihadapi. Gemas dan juga geram karena tak kuasa untuk melakukan. Menunggu kepastian adalah harapan terbesarnya. Mewujudkan segala mimpi, angan, dan cita-cita adalah hidupnya.

“Sedang apa, cinta?”
“Saya sedang dalam perjalanan. Bagaimana denganmu, sayang?”
“Saya sedang menanti mereka yang telah berjanji. Sedih karena mereka tak juga datang.”
“Janganlah bersedih, sayang. Kita sama-sama usahakan yang terbaik.”
“Mata saya hampir meneteskan air mata.”
“Saya cinta kamu. Cinta saya selalu untukmu. Semua yang terbaik untuk cinta kita, ya.”
“Air mata saya benar-benar menetes.”
“Sabar, ya, sayang. Selalu ada sejuta ciuman untukmu.”

Pilu rasanya hati ini merasakan segala rasa yang ada di dalam dirinya. Kesedihannya adalah kesedihan saya juga. Kegundahannya adalah kegundahan saya juga. Segala rasa yang ada di dalam dirinya adalah segala rasa yang ada di dalam diri saya. Dalam diam di antara keramaian saya pun menangis. Tetesan air matanya adalah air mata saya juga. Tidak bisa untuk tidak. Tidak kuasa untuk memungkirinya.

Saya ingin sekali memeluknya dan mendekapnya dalam-dalam. Membiarkannya masuk ke dalam lubuk terdalam hati saya. Membiarkannya menangis di sana sampai tetesan air mata itu habis dengan sendirinya. Memberikan ketenangan dan kedamaian sehingga apa yang dia rasakan bisa kemudian berubah menjadi sebuah semangat yang baru. Saya ingin semua yang menjadi mimpi, angan, dan cita-citanya menjadi nyata. Sebuah kehidupan yang bisa memberikannya sejumlah kepastian. Saya sangat mencintai dia. Amat teramat sangat.

Segala daya dan upaya saya perjuangkan untuknya. Saya ingin selalu memberikan segala yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk diberikan kepadanya semua. Semuanya untuk dia. Hanya untuk dia. Dia cinta saya. Saya cinta dia.

Menjadi pasangan cinta dalam perjalanan cinta sangatlah membutuhkan kesabaran dan juga pengertian. Emosi selalu saja ada. Senang ataupun susah. Suka ataupun duka. Tatkala semua itu terjadi, jadikanlah cinta sebagai sumber kekuatan. Cinta bisa memberikan segalanya. Cinta bisa menjadikan segalanya. Cinta jugalah yang mengalahkan segalanya. Kamu juga, kan, yang mengajarkannya kepada saya untuk selalu memenuhi diri dengan cinta agar cinta itu selalu ada?! Biarkan cinta menjadi semakin besar dan besar lagi sehingga semuanya menjadi terwujud.

Janganlah melemahkan rasa cinta di dalam diri hanya karena apa yang dikatakan sebagai kebutuhan nyata di dalam kehidupan. Berikanlah juga cinta selalu kepada diri sendiri. Yakinlah bahwa semua bisa diselesaikan dan digapai. Semua pasti bisa. Seperti juga yang pernah kamu ucapkan kepada saya, “Semua tergantung bagaimana cara berpikirnya saja. Rumit bisa menjadi rumit dan mudah bisa menjadi mudah“. Ingatkah itu, sayang?!

Sabar, ya, sayang. Kita berdua masih memiliki perjalanan cinta yang panjang. Saya ingin semuanya tidak menjadi sebuah perjalanan yang sia-sia tetapi menjadi sebuah perjalanan cinta yang tidak pernah terputus dan juga tidak memiliki tepi. Cinta kita untuk kita. Cinta kita juga untuk semua. Harapan adalah sebuah asa yang selalu ada. Masa depan kita adalah sebuah kepastian walaupun kini tidak bisa dikatakan pasti. Semua membutuhkan cinta kita. Demikian juga kita. Kita membutuhkan cinta semua. Cinta harus selalu ada, ya, sayang.

Perlahan-lahan kita akan terus berjalan bersama. Beriringan dan berdampingan kita menggapai semuanya. Menghadapi segala cobaan yang datang dengan segala cinta yang kita miliki. Dari cinta, oleh cinta, dan untuk cinta.

Ibu pertiwi kekasih tercinta. Sabar, ya, sayang. Berhentilah menangis. Saya sangat mencintaimu dan saya pun tahu dirimu sangat mencintai saya. Mari kita sama-sama terus bercinta sepanjang perjalanan cinta kita. Cinta kita adalah sepanjang masa yang ada di dalam ruang tanpa batas dan waktu.

Semoga cinta itu selalu ada.
Kompasiana

Penghormatan untuk Istriku



Lima menit berlalu, kami masih terdiam. Aku tahu pasti jika Ummi, istriku sedang marah. Dia memang tidak mengucapkan kata-kata dengan nada yang keras. Namun, dari intonasi dan gaya bicaranya yang tidak biasa, aku bisa memahami kalau hatinya sedang tidak berkenan dengan perbuatanku. Setahun lebih menikah telah membuatku paham dengan kebiasaannya. Ummi menghela nafas, tanda amarahnya telah berkurang. Kuberanikan diri untuk bicara,
”Sudah selesai, ummi?” tanyaku pelan. Dia menjawab dengan anggukan.
”Abi minta maaf, Abi tidak sengaja. Tadi malam Abi lembur mengerjakan tugas dari Kampus sehingga tadi sehabis shalat dluha Abi tertidur dan Biun ketika hujan sudah lebat, jadi tidak sempat menyelamatkan jemuran yang telah kamu cuci. Sekali lagi Abi minta maaf, biar nanti jemurannya Abi cuci kembali”. Mendengar penjelasanku amarah Ummi menjadi reda. Dia kemudian duduk mengambil posisi di hadapanku. Ini hari minggu, kami libur mengajar. Tadi setelah selesai mencuci pakaian, Ummi pergi belanja ke pasar.
Sejak menikah hingga saat ini, kami hidup dalam kesederhanaan. Rumah kami masih mengontrak, namun kami tetap bersyukur masih punya tempat untuk berteduh dari panas dan hujan. Kami memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah tanpa melalui proses pacaran. Persamaan kami adalah kami anti pacaran. Waktu itu kami belum mendapat pekerjaan, hanya kepercayaan atas rezeki dari Allah lah yang membuat kami berani untuk menikah. Alhamdulillah, saat ini kami telah menjadi guru meski cuma guru swasta; aku di SMP sedang dia di Madrasah Aliyah. Kami sepakat untuk selalu bersama dalam berjuang menggapai cita-cita dalam segala keadaan. Aku mencintainya dan dia pun mencintaiku.
”Bi, Ummi boleh tanya?” suaranya memecah keheningan yang kembali terjadi sesaat.
”Ada apa Mi?” sahutku.
”Kenapa sih Abi tidak pernah marah sama Ummi? Ummi sendiri merasa kalau selama ini Ummi belum bisa menjadi istri yang baik, sering membuat Abi kecewa, sering marah-marah; tapi kenapa Abi selalu sabar dengan sikap Ummi yang seperti ini?”. Mendengar pertanyaan Ummi, aku terdiam. Aku jadi teringat sebuah kisah yang terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khottob ra. Saat itu ada seorang sahabat yang hendak melaporkan kelakuan istrinya yang kasar terhadapnya kepada Khalifah Umar. Dia ingin mendapatkan saran dari beliau dalam menghadapi istrinya. Lalu pergilah sahabat tersebut menuju rumah (benar rumah, bukan istana) Khalifah Umar. Ketika sampai di depan rumah Khalifah Umar dia berhenti. Sahabat itu mendengar dari luar jika Khalifah Umar sedang dimarahi oleh istri beliau, sedangkan beliau hanya diam. Sahabat itu lalu berfikir, ”Kalau Khalifah Umar saja diam saat dimarahi istri beliau, apa yang bisa disarankan beliau untukku?”. Akhirnya dia berniat pulang dan tidak jadi meminta pendapat beliau. Selang beberapa langkah, dia dipanggil oleh Khalifah Umar,
”Wahai Fulan, engkau telah sampai di depan rumahku, mengapa engkau hendak kembali lagi?”. Mendengar pangilan Khalifah Umar, sahabat tersebut menghampiri beliau dan berkata,
”Maafkan wahai ’Amirul Mukminin, tadi aku hendak melaporkan kelakuan istriku yang kasar terhadapku. Tapi ternyata kulihat engkau diam saja ketika dimarahi istrimu, jadi kufikir apa saran yang bisa kudapat darimu?” jawab sahabat.
”Kenapa aku diam saja ketika istriku marah padaku, itu karena aku menghormatinya. Aku mengalah dan membiarkannya memarahiku karena dia telah banyak membantuku. Dia yang mengurus aku dan rumahku, mencucikan baju untukku, membuatkan roti untukku, memasak untukku, dan pekerjaan lain; sementara semua itu tidak pernah kuperintahkan padanya. Jadi sudah sepantasnya aku memuliakannya.”. jelas Khalifah Umar. Sahabat itu akhirnya mengerti dan kembali kepada istrinya dengan hati yang tenang.
”Bi, kok diam?” suara Ummi membuyarkan ingatanku. Lama dia menunggu jawabanku.
”Oh iya, maaf. Bagi Abi, kamu adalah istri yang terbaik. Abi selama ini sabar dan akan selalu berusaha bersikap sabar atas sikapmu, karena Abi ingin memuliakanmu selama di dunia. Sebab jika kita berhasil mati dalam keadaan Islam, di akhirat Abi akan mendapatkan hadiah bidadari, itu artinya Abi akan memadumu meski kamu tetap jadi istriku yang utama dan menjadi ratu dari bidadariku. Maka dari itu selama masih di dunia, Abi ingin membuatmu merasa sempurna dengan semua cintaku. Dan, Abi tidak akan menduakanmu dengan menikahi wanita lain.” Mendengar penjelasanku, Ummi tertunduk. Pelan kudengar dia terisak, setelah itu dia menghambur ke arahku. Dia berlutut dihadapanku sambil mencium tanganku. Tangisnya meledak,
”Maafkan aku, Bi….. maafkan aku.” pintanya dalam isakan.
Tanpa terasa air matakupun meleleh. Aku hanya bisa mengangguk sambil membelai rambutnya yang halus.
”Aku ingin kamu jadi bidadariku, selamanya………”

TW ( edit istilah )

Senin, Juli 06, 2009

Karena Nurani


Senin, pukul 11.30. Seorang saleh tergopoh-gopoh menuju masjid, karena sebentar lagi adzan akan berkumandang. Sebenarnya lelaki itu biasa berjalan kaki dari rumahnya, kendati jarak pulang pergi 3 km. Namun saat itu dia harus berlari dan mengejar kendaraan umum yang bisa membawanya pergi ke mesjid raya.

Tiba-tiba di pinggir jalan ada seorang pengemis menghampirinya dan menadahkan tangan dengan begitu memelas. Orang saleh ini hanya diam sambil terus menunggu kendaraan. Akan tetapi si pengemis yang masih dalam keadaan memelas tetap gigih memohon. Rupanya si lelaki saleh itu tetap dengan sikap tak pedulinya sambil terus memandangi jam tangannya.

Mobil angkotpun datang. Namun tubuh lunglai pengemis tadi menghalanginya untuk naik. Akhirnya si saleh kehilangan kesabaran dan marahpun tumpah.

“ Heh..tahu gak sih, aku sudah terlambat sekarang. Kamu mengganggu saja. Minggir.." Hardik si lelaki dengan suara keras.

Singkat cerita, ia campakkan si pengemis begitu saja. Tanpa melakukan apapun. Sesampainya di depan masjid, ia begitu terkejut karena pengemis itu sudah ada di sana mendahului dirinya. Masih dalam keadaan terkesima atas kejadian ini, si pengemis menepuk bahunya sambil mengatakan sesuatu.
"Aku tidak membutuhkan kesalehanmu, aku hanya membutuhkan kasih sayangmu." Sebuah kata singkat darinya. Seketika pengemis itu menghilang dari pandangan.

Tentang kepedulian dan kasih sayang. Apa iya sih saat ini, kita masih memilikinya? Atau mungkin kita hanya peduli pada hal-hal yang sifatnya lebih sementara?

Coba bayangkan tiga atau empat tahun lagi dari sekarang....

Orang mungkin akan dengan mudah lupa. Lupa dengan IP yang pernah kita dapat, baik A+ atau C+. Lupa akan kata-kata ’hebat’ yang pernah kita lontarkan saat berada di atas mimbar, di lembar-lembar tulisan atau saat kita luapkan di pertemuan dengan teman-teman kita. Begitu juga dengan penampilan, apa saja barang-barang mewah yang pernah kita kenakan, mobil bagus, baju necis, emas berlian, mereka tidak akan mengingatnya.

Namun mereka akan sulit sekali melupakan pada setiap perhatian yang pernah kita berikan, ketika kita bersedia mengajari mereka. Setiap kata yang kita berikan untuk membangun dan menyemangati mereka. Setiap pemberian sederhana yang pernah mereka terima saat mereka butuhkan. Setiap detik yang kita luangkan untuk mereka yang membutuhkan kita.

Mungkin hanya hal sederhana, namun itu adalah sesuatu yang begitu berarti ketika kita memberikannya dengan tulus ikhlas. Ya..dengan ikhlas karena kita berbuatpun bukan untuk dikenang mereka, tapi untuk akhirat kita.

Namun sayang... Mungkin kita adalah orang yang dituntut untuk hidup serba cepat tanpa harus peduli satu sama lain. Mungkin kita adalah generasi yang dididik untuk menyelamatkan diri sendiri sebelum memberi perhatian kepada orang lain.

"Eh dia masuk rumah sakit, mau ikut pergi jenguk gak?" Seseorang mengingatkan temannya.
"Oh..titip salam aja ya. Aku masih banyak urusan lain nih." Jawab temannya

"Eh, aku boleh minta waktu kamu sedikit aja. Aku lagi dalam masalah berat nih!" pinta seorang teman suatu waktu.

"Waduh..entar aja ya! Sibuk kerja nih." Jawab teman yang lain.

Kita tidak pernah tahu seberapa banyak waktu yang tersita untuk segala macam kesibukan yang kita lakukan. Bahwa sebenarnya kita pasti masih punya banyak waktu asalkan kita cukup mau mempunyai rasa peduli pada orang lain. Bahwa kita pasti masih bisa punya perhatian, asalkan kita mau untuk meluangkannya. Itu lebih tergantung dari isi hati kita, dari apa yang ada di dalam kita.

Bukan tergantung dari apa yang ada di luar diri kita. Memilih untuk peduli atau tidak peduli ada di dalam kontrol kita. Bukan dalam kontrol situasi yang ada di sekeliling kita. Ada begitu banyak alasan untuk menjadi tidak peduli; karena kesibukan, karena gengsi, karena malas, karena capek, atau apapun itu. Namun hanya ada satu alasan untuk menjadi peduli yaitu karena NURANI....

Jumat, Februari 27, 2009

Surat untuk Sahabat


Sahabat, semoga senantiasa kita bisa menapaki jalan ini dengan lurus dan tetap pada ridho-Nya. Persahabatan yang telah qita jalin semoga bisa menjadi ladang amal agar perjalanan ini menjadi berwarna dengan warna2 yang indah.

Tahukah sahabat, jika setiap orang itu memilki dunia yang berbeda. Semakin kita banyak memiiki sahabat maka semakin banyaklah dunia yang kita jumpai, maka semakin luas pulalah wawasan kita.

Aku adalah sosok yang apa adanya. Terlahir dari rahim suci yang penuh kasih. Aku adalah bersih, maka jika sekarang aku menjadi kotor maka itu karena ulahku sendiri. Untuk itu tolong untuk selalu menasihati dan mengingatkanku sahabatku.

Aku adalah aku. Takkan semua orang tahu pasti akan aku, bahkan mungkin semuanya. Aku hanyalah sosok yang ingin hadirku menebarkan kasih sayang, keceriaan, kedamaian, keoptimisan & kemaslahatan yang lain.

Marilah kita semua tersenyum untuk sebuah kemenangan. Yakin masa depan gemilang di tangan kita.

Senin, Januari 05, 2009

Seribu Cinta untuk Palestina (dari buku “Merah di Jenin”)

(salah satu cerpen dalam buku Merah di Jenin; Kado Cinta untuk Palestina)

Jazimah al-Muhyi

“Mau ke mana, De?”

“Aksi.”

“Demonstrasi apalagi?”

“Solidaritas Palestina.”

“Emangnya di Palestina ada apa?”

Ade mengikat tali sepatunya dengan lebih kuat. Mukanya terangkat.

“Israel mengepung Al-Aqsho. Mereka membantai wanita dan anak-anak tak berdaya. Di Nablus, Jenin, dan banyak tempat lagi.”

“Trus, kita mau ngapain, De? Itu kan urusan mereka. Emang dari dulu Israel dan Palestina itu kan kerjaannya perang dan perang saja. Mungkin saja dua negara itu memang ditakdirkan begitu.”

“Mbak Rora, Islam itu satu tubuh. Kali ini Israel membabi buta. Kecaman dari banyak negara tidak dihiraukan sama sekali.”

“Di mana-mana hal semacam itu kan banyak terjadi. Bahkan di negeri kita sendiri, perang saudara terus-menerus ada. Mungkin saja sudah watak orang zaman sekarang hobinya perang. Untuk apa sih buang-buang energi dengan memikirkan Palestina yang jauh dari jangkauan. Sepertinya kita ini kurang kerjaan saja.”

“Palestina milik umat Islam sedunia. Tanah wakaf itu simbol supremasi dan harga diri kaum Muslimin. Al-Aqsho pernah menjadi kiblat sholat sebelum Ka’bah. Banyak sahabat Rosululloh yang wafat dan dimakamkan di sana.”

“Tapi masalah di dalam negeri juga tak kurang banyak untuk dipikirkan, bukan? Krisis moneter, banjir, konflik SARA. Buat apa kita susah-susah….”

“Terserah apa kata mbak sajalah. Ade berangkat dulu. Assalamu’alaikum….”

Ade segera berangkat pergi. Membuka handel pintu dengan cepat, menutupnya, membuka pagar, menutupnya, lantas berjalan cepat menuju jalan raya. Melayani debat dengan Mbak Rora seringkali hanya membuang energi, sia-sia tanpa guna. Dari Ustadz Umar, Ade pernah belajar bahwa tabi’in Muhammad bin Wasi’ pernah berpesan agar menghindari memperpanjang perdebatan yang sia-sia. Karena jenis perdebatan seperti itu tidak akan mendatangkan kebaikan justru malah mengeraskan hati, mengeruhkan jiwa, mengacaukan kedamaian kalbu.

* * *

“Yahudi la’natullah!”

“Amerika la’natullah!”

“Mujahidin habiballah!”

Dengan tangan terkepal, teracung ke udara, para peserta aksi solidaritas Palestina terus mengumandangkan takbir, tahlil. Alam pun turut berduka.Angin melambatkan gerakannya. Langit cerah meredupkan panasnya. Awan-awan bergelantungan melindungi para peserta dari teriknya matahari.

Ade meneteskan air mata. Betapa biadab Israel! Bahkan biarawan-biarawati turut terbunuh. Seorang pastur asal Amerika pun ikut jadi korban. Meski itu tentu saja belum seberapa bila dibandingkan dengan jumlah korban dari rakyat Muslim Palestina yang mencapai ratusan.

Mata dunia terbuka. Paus di Vatikan Roma mulai bersuara. Negara-negara yang sebenarnya budak Amerika pun berani beramai-ramai mengeluarkan pernyataan mengutuk Israel. Kekejian bangsa kera itu memang sudah tidak bisa ditolerir lagi.

“Allohu akbar!”

Peserta aksi berteriak dengan suara penuh. Tetap semangat meski peluh berleleran membasahi wajah, mengalir di sekujur tubuh.

“Mending tidur di rumah, Dik!”

“Kasihan, cantik-cantik disuruh lari-lari panas begini. Nanti item, lho.”

Beragam komentar bersahutan terdengar saat beberapa korlap (koordinator lapangan) mengomando seluruh peserta aksi untuk berlari-lari kecil dengan tujuan agar kemacetan di jalan raya bisa diminimalisasi. Orang-orang di sepanjang jalan seperti mendapat tontonan gratis. Komentar terus mengalir. Beberapa di antaranya dibarengi dengan tawa mengejek.

Biarlah. Kebenaran harus ditegakkan! Kebenaran harus ditampakkan! Opini publik harus diluruskan. Aksi solidaritas merupakan salah satu cara. Bagaimanapun, Yahudilah yang menguasai sebagian besar pusat informasi dunia.

* * *

“Qunut nazilah di tiap sholat lima waktu kita. Semoga saudara-saudara di Palestina tetap istiqomah agar bisa meraih gelar syahid, agar khusnul khotimah. Wamakaruu wamakarallah. Wallahu khairul maakirin. Orang-orang kafir boleh saja bangga dengan makar-makar yang mereka rancang, namun Allah Yang Maha Perkasa pasti akan membalas makar-makar mereka.”

Kajian siang di kost Melati berakhir. Para muslimah yang mengikuti kajian pun bergantian mohon diri. Ade, sang mentor, melepas kepulangan adik-adik binaannya dengan senyum cerah sampai di gerbang.

“Palestina lagi, Palestina lagi. Kok ya nggak ada bosannya!”

Ade tidak merasa perlu untuk menanggapi. Dia hafal betul warna suara itu. Dengan merebahkan diri di kasur, disetelnya kaset. Tak lama berselang, mengalunlah nasyid Izzatul Islam yang menggelorakan semangat.

Mengapa kau patahkan pedangmu, hingga musuh mampu membobol bentengmu. Menjarah, menindas, dan menyiksa. Dan kita hanya diam sekadar terpana.

Ade tersentak. Ya, kenapa hanya sekadar terpana. Sungguh-sungguhkah aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain do’a dan mengikuti aksi solidaritras? Batin Ade bergejolak.

Komponen-komponen dalam otaknya bekerja cepat, bersinergi untuk mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang dihasilkan seketika memberi komando pada organ-organ tubuh untuk bergerak.

Tangannya terampil menggunting dan mengelem kertas karton. Diambilnya spidol besar warna hitam. Dengan keseluruhan huruf kapital dia menulis, ‘DANA SOLIDARITAS MUSLIM PALESTINA’. Dipasangnya di samping televisi, ruang yang paling diminati anak-anak kost di waktu senggang atau bosan.

“Dana buat Palestina. Siapa pula yang akan menyampaikan dana itu. Aku kok nggak yakin bisa nyampai ke sana. Wartawan aja dilarang meliput, kan? Bantuan kemanusiaan dari PBB pun konon tidak bisa masuk. Wah, jangan-jangan malah buat kepentingan parpol tertentu. Lumayan kan untuk modal kampanye tahun 2004 nanti. Pantesan, getol banget mengompori segala macam aksi.”

Darah Ade serasa naik sampai ubun-ubun.

“Jangan su’udzon, Mbak Rora. Informasi yang dikuasai Yahudi boleh mengatakan apa saja. Namun, dengan pertolongan Allah, jangankan cuma orang, senjata berat pun akan masuk Palestina.”

“Benar-benar kamu sudah termakan pengaruh orang-orang sok suci, sok peduli itu, De. Hati-hati, sekarang lagi musimnya fundamentalis garis keras nyari pengikut. Habis nanti uang kamu diporotin mereka. Setelah itu….”

“Astaghfirullah, Mbak. Kenapa ngelantur begitu? Dari solidaritas Palestina kenapa disangkutpautkan sama fundamentalis. Apa hubungannya?”

“Yang perlu ditanya itu kamu. Apa hubungannya kamu sama Palestina?”

Ade berusaha mengulur kesabarannya. Entah berapa puluh kali lagi dia harus mengulang kalimat yang sama untuk mengingatkan Mbak Rora tentang urgensi ukhuwah sebagai salah satu pilar syarat bangkitnya kejayaan Islam.

“Ade cinta Palestina karena Allah. Ade akan bantu sebisa mungkin. Yahudi-Yahudi laknat itu pasti kalah, suatu saat nanti”, nada bicara Ade tegas.

“Yakin sekali ya, kamu.”

“Kenapa tidak yakin? Bukankah Allah Yang Maha Kuasa telah Mengirimkan burung-burung ababil dengan kerikil dari neraka untuk menghancurkan pasukan gajah Abrahah? Untuk apa mengaku Muslim kalau tidak yakin dengan datangnya pertolongan Allah.”

“Hebat…hebat…”, Mbak Rora bertepuk tangan. Ujung bibirnya sebelah kanan terangkat sedikit. Menyisakan garis sinis untuk dinikmati Ade.

Namun, Ade tidak menghiraukan, justru melanjutkan ucapannya.

“Islam menang adalah suatu kepastian, janji Allah pasti akan terjadi. Persoalannya, kita termasuk orang yang memperjuangkan kemenangan itu atau tidak. Atau justru kita akan menjadi orang munafik. Yang apabila datang kemenangan pada kaum Muslimin dia berkata ‘Aku bersamamu’ sedangkan jika datang kekalahan dia bilang ‘Untunglah aku tidak turut bersamamu sehingga terhindar dari celaka dan kematian’. ”

“Pintar sekali ustadzah kita berkhotbah!”

Ade tidak berniat menanggapi lagi. Adzan Asar sudah memanggil. Bergegas dia menuju kran untuk mengambil air wudhu. Mensucikan diri, mensucikan hati.

“Tidak ada kata damai untuk Israel!”

* * *

Aksi solidaritas kedua diikuti Ade. Dengan kedua tangan mengacungkan poster ‘Ariel Sharon, payah!’, Ade melangkah mantap. Jika Israel telah bertekad maju terus dengan prinsip point of no return, sejak awal perjuangan intifadha dikobarkan, seluruh mujahidin Palestina dipastikan telah menggenggam prinsip itu. Point of no return, berada pada satu titik yang tidak bisa kembali. Dasar Israel sombong, sok punya nyali! Mereka belum kenal dengan Sholahuddin Al-Ayyubi rupanya. Belum pernah mendengar kepahlawanan Muhammad Al-Fatih, sepak terjang Khalid bin Walid, kelihaian sang panglima belia Usamah bin Zaid, belum tahu kegarangan para singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Bangsa yang terkenal suka mengingkari perjanjian itu sepertinya belum pernah mendengar kisah heroik Nusaibah, keberanian Al-Khansa, keperkasaan Asma’ binti Abu Bakar. Mereka benar-benar terlalu percaya diri!

“Khaibar-khaibar ya Yahuud, ja’isyu Muhammad saufa ya’uud!“

Rasulullah yang pemaaf pun akhirnya terpaksa memberikan sanksi keras dengan mengusir seorang Yahudi atas perbuatan lancangnya membuka penutup aurat seorang muslimah di pasar.

* * *

“Bom bunuh diri . Akhirnya kok putus asa.”

“Bukan bom bunuh diri, bom syahid.”

“Apapun istilahnya, toh pada hakekatnya sama.”

“Hanya Allah yang berhak menilai segala hal yang ada di balik dada.”

“Ccck…ide gila. Mau ngirim pasukan? Sok berani betul! Bisa-bisa malah mati konyol…salah-salah malah nembakin orang Palestina sendiri. Berita apa lagi ini. Cck…cck…”

“Bila kita tidak bisa bertindak apa-apa, setidaknya jangan mencela orang-orang yang punya niatan mulia!” Ade memungut koran harian yang dibanting Mbak Rora di atas meja.

“Sebenarnya, ini bukan murni persoalan Islam-Yahudi. Paling banter politis sajalah. Yah, wajar saja kan kalau Yahudi ingin berkuasa, ingin selalu dianggap yang terbaik. Itu Cuma dampak perlawanan mereka atas ulah Hitler di masa lalu aja, kan?”

“Analisa itu tidak sepenuhnya benar, Ade kira. Apakah Hitler, si pembantai Yahudi, itu seorang Muslim? Sejarahnya, permusuhan Yahudi terhadap Islam dimulai sejak mereka tahu bahwa nabi terakhir yang mulia bukan dari bangsa mereka. Mereka sakit hati lantaran terlanjur merasa paling unggul sebagai anak Tuhan.”

“Ah, itu kan sejarah versi orang Islam. Jelaslah tiap kaum pasti ngerasa benar sendiri. Punya pikiran tuh yang luas, De, jangan sektarian, jangan sempit. Kamu sebagai mahasiswa harus bisa berpikir global, universal, bisa menghormati setiap paham yang ada di muka bumi ini. Menurutku, obsesi yang dipunyai Yahudi itu wajar aja. Apa ingin jadi yang terbaik itu satu kesalahan?”

“Tentu saja tidak jika upaya untuk mencapai keinginan itu dilakukan dengan cara-cara yang fair. Tidak dengan menginjak-injak hak orang lain, memberangus kebebasan beribadah, mengebiri martabat kemanusiaan, dan bahkan menganggap bangsa lain sebagai budak.”

“Memangnya Yahudi sudah berbuat apa?”

Ade beristighfar dalam hati. Mulai lagi, mulai lagi. Biarpun Ade sudah menjelaskan berulangkali, tak pernah bosan Mbak Rora melontarkan kalimat pertanyaan itu. Salah sendiri lebih percaya berita dari kaum fasik, musyrik, dan munafik, batin Ade kesal. Baca koran saja sukanya milih koran yang sahamnya mayoritas dikuasai oleh orang-orang sekuler!

“Israel itu hanya membela diri dari serangan teroris-teroris. Apa itu salah? Apa iya orang diserang mesti diam aja. Kita mesti jujur dong melihat realitas. Kita umat Islam jangan membabibutalah kalau bikin tuduhan. Katanya rahmatan lil’alamin!”

Stok kesabaran Ade menipis drastis. Perlu suntikan ruhiyah yang besar untuk memperkuat kembali.

“Maaf, ini sudah malam. Ade mau tidur. Takut nggak bisa bangun buat qiyamullail. Kasihan saudara-saudara di Palestina kalau untuk sekadar mendo’akan mereka pun kita tidak sempat.”

“Palestina lagi, emangnya….”

Ade menulikan telinga. Pikiran dan hatinya telah benar-benar lelah. Tak sanggup lagi menghadapi debat ala Mbak Rora. Diputuskannya untuk bersegera menuju kamar. Semoga masih ada kesempatan di esok hari untuk memekarkan bunga cinta di dada, menyebarkan wanginya kepada seluruh muslimin sedunia, harap Ade. Bunga-bunga cinta yang terus bersemi di hati. Cinta yang menyala lebih terang seiring kuatnya tekanan yang dia terima. Seribu cinta untuk bumi Allah Palestina.




Ruang Tamu


Tinggalkan Pesan Terbaikmu

Puncak Selera Jiwa

Pojok Hikmah

mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah