Cinta seperti matahari
Selalu memberi pagi
Ceria
Cinta seperti gemintang
Menunjuki
Jalan terang
Cinta seperti rembulan
Memesona
Indah dipandang
Cinta seperti lautan
Bergelora
Menakutkan
Cinta seperti gunung
Teguh
Menyimpan dendam
Cinta seperti pepohonan
Teduh
Menaungi
Cinta seperti udara
Jernih
Menghidupkan
Cinta akan hidup
Saat hidup dengan cinta
Bersama.
Kategori
Jumat, Januari 09, 2009
MALAM INI KUSEPI SENDIRI
Malam,
Aku capek
Dekap aku dalam gelapmu
Agar hilang anganku.
Bintang,
Aku sepi
Kirim kerlipmu kesini
Temani aku dalam sunyi
Agar hilang dukaku.
Bulan,
Aku rindu
Kuingin bertemu
Obati sukmaku
Agar tenang hatiku.
Angin,
Ku ingin desirmu
Mengusir rindu
Menyibak benci
Agar nyenyak tidurku.
Malam,
Bangunkan aku
Agar bisa bersama sepi
Menghias hari-hari
Dalam doa abadi
Aku capek
Dekap aku dalam gelapmu
Agar hilang anganku.
Bintang,
Aku sepi
Kirim kerlipmu kesini
Temani aku dalam sunyi
Agar hilang dukaku.
Bulan,
Aku rindu
Kuingin bertemu
Obati sukmaku
Agar tenang hatiku.
Angin,
Ku ingin desirmu
Mengusir rindu
Menyibak benci
Agar nyenyak tidurku.
Malam,
Bangunkan aku
Agar bisa bersama sepi
Menghias hari-hari
Dalam doa abadi
Senin, Januari 05, 2009
Cinta dan Jihad
Penulis : Nicco Elqassam
KotaSantri.com : Ya Rabb,
Sungguh Maha Sempurnanya Engkau
Yang telah menjelmakan kesempurnaan pada makhlukMu
Kesempurnaan lewat sayap-sayap kebahagiaan yang berpasangan penderitaan
Bersama satu tubuh cinta, terbang menjemput kami
Ya Rabb,
Sungguh kami sadari, bahwa sayap derita itu bukanlah derita yang sebenarnya
Tapi bagian dari cinta, satu, tak lepas
Ketika darah kami banjiri tanah jihad, itu bukanlah derita, tapi cinta
Ketika tubuh kami koyak di medan jihad, itu bukanlah derita, tapi cinta
Ketika otak kami tercerai di bumi jihad, itu bukanlah derita, tapi cinta
Karena sayap kebahagiaan tengah merengkuh kami, berurai kasih
Ya Rabb,
Semoga kami menyadarinya,
Dan mendatangi jihad, dari timur, dari barat
Mendatangi cinta dari utara, dari selatan
MendatangiMu dari penjuru-penjuru bumiMu
Walau ringan dan berat
Dengan harta dan jiwa
Ya Rabb,
Darah kami boleh kering
Tubuh kami boleh koyak
Otak kami boleh berurai
Tapi senyum kerinduan tetap ada di hati kami
Kerinduan perjumpaan denganMu
Takutlah engkau, wahai munafikun, wahai kafirun!!!
Larilah engkau, sembunyilah engkau!
Dan sungguh kami akan datang padamu
Mengantarkanmu dengan hati kami yang tenang, ke mimpimu, nerakamu
KotaSantri.com : Ya Rabb,
Sungguh Maha Sempurnanya Engkau
Yang telah menjelmakan kesempurnaan pada makhlukMu
Kesempurnaan lewat sayap-sayap kebahagiaan yang berpasangan penderitaan
Bersama satu tubuh cinta, terbang menjemput kami
Ya Rabb,
Sungguh kami sadari, bahwa sayap derita itu bukanlah derita yang sebenarnya
Tapi bagian dari cinta, satu, tak lepas
Ketika darah kami banjiri tanah jihad, itu bukanlah derita, tapi cinta
Ketika tubuh kami koyak di medan jihad, itu bukanlah derita, tapi cinta
Ketika otak kami tercerai di bumi jihad, itu bukanlah derita, tapi cinta
Karena sayap kebahagiaan tengah merengkuh kami, berurai kasih
Ya Rabb,
Semoga kami menyadarinya,
Dan mendatangi jihad, dari timur, dari barat
Mendatangi cinta dari utara, dari selatan
MendatangiMu dari penjuru-penjuru bumiMu
Walau ringan dan berat
Dengan harta dan jiwa
Ya Rabb,
Darah kami boleh kering
Tubuh kami boleh koyak
Otak kami boleh berurai
Tapi senyum kerinduan tetap ada di hati kami
Kerinduan perjumpaan denganMu
Takutlah engkau, wahai munafikun, wahai kafirun!!!
Larilah engkau, sembunyilah engkau!
Dan sungguh kami akan datang padamu
Mengantarkanmu dengan hati kami yang tenang, ke mimpimu, nerakamu
Jihad yang Hilang: Cinta dalam Islam
oleh G. Willow Wilson
Kairo - "Di jantung semua makhluklah terletak sumber kehancuran mereka," tulis penulis Mesir Adhaf Soueif dalam novelnya, The Map of Love. Ia menuruti kata hatinya dalam sebuah penyimpangan yang ditulis dengan sangat indah dari tatabahasa Arab, dengan membandingkan kata-kata yang berasal dari akar yang sama: dalam hal ini, qalb, "jantung"; dan enqilab, "kehancuran". Pada tingkat ini, tempat hubungan antara makna dan bangunannya jelas terlihat, bahasa Arab menjadi sebuah bahasa yang luar biasa, menautkan konsep dan gagasan yang dalam bahasa Inggris sama sekali tak berhubungan.
Terlepas dari rentang dan kegunaan konseptualnya yang besar, yang disediakan oleh akar dan pola sistem bahasa tersebut, ada sebuah anggapan umum di kalangan bukan pengguna bahwa bahasa Arab – dan karenanya, Islam – tidak memiliki kata yang sebanding dengan agapé, sebuah istilah Yunani yang digunakan umat Kristen untuk memaknai cinta tak berbatas, yang penuh pengorbanan diri antara orang-orang beriman, atau antara seorang beriman dengan Tuhan. Kata tersebut memiliki gairah lebih besar daripada filia, namun tidak sejelas eros, agapé adalah cinta yang tidak memiliki pengharapan, yang di dalamnya seorang pecinta direndahkan dan didisiplinkan sebelum dicintai. Sebuah pencarian Google bagi kata “agapé” dan “Islam” menghasilkan ratusan situs yang mengatakan bahwa istilah tersebut tidak ditemukan dalam bahasa Arab, dan menggambarkan Islam sebagai agama yang dingin dan tidak berperasaan karena ketiadaan kata tersebut.
Selama bertahun-tahun, Muslim Sufi telah merujuk kepada berbagai kata yang romantik dalam bahasa Arab bagi cinta dan membuat kata-kata itu berfungsi sebagai sebuah gagasan yang sangat serupa dengan agapé. Puisi Sufi yang berasal dari abad ke-10 dan ke-11, mengilhami budaya troubadour dan gagasan-gagasan cinta penuh kesantunan yang berkembang di kerajaan-kerajaan abad pertengahan di selatan Prancis, Navarre, dan Aragonne; salah satu perkembangan artistik positif yang muncul dari hubungan antara orang Eropa Kristen dan Timur Dekat Muslim selama Perang Salib. Tetapi banyak dari para pemikir terbesar Sufi, termasuk al Ghazali, sesungguhnya dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Platonik, Neoplatonik, dan Kristen Gnostik tentang cinta, tetap terpelihara di Timur Tengah abad pertengahan karena penerjemahan tulisan-tulisan berbahasa Yunani, Romawi, dan Bizantium ke dalam bahasa Arab dan Persia. Pertanyaan yang tersisa adalah: kita mengetahui Nabi Muhammad menginginkan umat Muslim untuk mencintai dan melayani Tuhan, tetapi adakah ia menginginkan mereka saling cinta-mencintai dengan Tuhan – dan mencerminkan cinta dan pengabdian ini satu sama lain?
Sederhananya, jawabannya adalah ya. Walapun ia secara klasik telah diabaikan oleh para pengecam Islam, ada sebuah kata bagi agapé dalam bahasa Arab. Ia membawa konotasi “ketakterbatasan” abstrak yang sama seperti kata Yunani tesebut, dan digunakan dalam konteks yang sama. Terlebih lagi, kata tersebut sepenuhnya asli; tidak dipinjam, disesuaikan, atau diserap dari bahasa lain. Kata bahasa Arab bagi agapé adalah mahubba, dan kata tersebut sangat menarik karena dua alasan: satu, karena ia berasal dari hub – dalam bentuk femininnya – yang berarti cinta. Dua, karena awalan ‘ma’. Penambahan huruf mim di awal sebuah kata dalam bahasa Arab berarti "orang yang melakukan/sedang melakukan", "yang melakukan/sedang melakukan ", atau "dalam suatu keadaan" dari kata yang mengikutinya. Junun berarti gila, dan majnun berarti "orang gila" atau "dalam keadaan gila"; baraka berarti rahmat, dan mubarak adalah "orang yang dirahmati" atau "dalam keadaan penuh kerahmatan ".
Karena itu, mahubba secara harfiah berarti “dalam cinta”, tetapi jarang digunakan dalam pengertian erotik. Ia dapat menggambarkan cinta di antara sesama manusia atau cinta kepada ilahi, dan paling sering digunakan dalam konteks spiritual untuk kedua hal tersebut. Kandungan implisit dalam mahubba adalah pengabdian; seorang pecinta menempatkan yang dicintainya di tengah wacana, dan berserah kepada tuntutan-tuntutannya. Penulis Fethullah Gulen menggambarkan mahubba sebagai "kepatuhan, kepasrahan, dan penyerahan tanpa syarat" kepada yang dicintai, dengan mengutip bait-bait Sufi Rabi'a al-Adawiya, "Jika engkau jujur dalam cintamu, engkau akan mematuhi-Nya, karena seorang pecinta taat kepada yang dicintainya."
Sekali lagi, walaupun gagasan mahubba disebarkan terutama oleh tokoh-tokoh Sufi selama berabad-abad, kata dan konsep tersebut sesungguhnya berakar dalam tradisi Islam arus utama: Al Qur'an ayat 3:31 kadang disebut 'ayat ul'mahubba', dan berbunyi: "Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikuti aku, dan niscaya Allah akan mengasihimu." Sebuah hadits qudsi (Perkataan Tuhan yang disampaikan kembali oleh Nabi Muhammad) yang diikutsetakan dalam kumpulan hadits susunan Imam Malik bahkan lebih jelas lagi: "Tuhan berkata, 'Cinta-Ku [mahubbati] hanya dimiliki mereka yang saling mencintai satu sama lain [mutahubinna] demi Aku, duduk bersama demi Aku, saling mengunjungi demi Aku, dan beramal dengan murah hati kepada satu sama lain karena Aku."
Mahubba berbeda dari agapé adalah satu hal yang sangat penting: karena melayani dan mendekati yang dicintai merupakan sebuah bentuk dari perjuangan pribadi yang terus berkelanjutan, mahubba adalah sebuah bentuk dari jihad. Jauh dari "jihad kecil" penuh kekerasan dan sembarangan yang dikhotbahkan oleh para militan, mahubba adalah sebentuk jihad yang lebih besar, atau jihad melawan nafsu kita sendiri. Adhaf Soueif benar kiranya: di jantung semua makhluk terdapat sumber kejatuhan mereka. Perjuangan melayani Tuhan, dan sesama umat manusia, karena cinta, merupakan jihad potensi kemanusiaan melawan jihad dari ideologi kekerasan. Jika dihidupkan lagi, ia memiliki kekuatan mengubah dunia.
Kairo - "Di jantung semua makhluklah terletak sumber kehancuran mereka," tulis penulis Mesir Adhaf Soueif dalam novelnya, The Map of Love. Ia menuruti kata hatinya dalam sebuah penyimpangan yang ditulis dengan sangat indah dari tatabahasa Arab, dengan membandingkan kata-kata yang berasal dari akar yang sama: dalam hal ini, qalb, "jantung"; dan enqilab, "kehancuran". Pada tingkat ini, tempat hubungan antara makna dan bangunannya jelas terlihat, bahasa Arab menjadi sebuah bahasa yang luar biasa, menautkan konsep dan gagasan yang dalam bahasa Inggris sama sekali tak berhubungan.
Terlepas dari rentang dan kegunaan konseptualnya yang besar, yang disediakan oleh akar dan pola sistem bahasa tersebut, ada sebuah anggapan umum di kalangan bukan pengguna bahwa bahasa Arab – dan karenanya, Islam – tidak memiliki kata yang sebanding dengan agapé, sebuah istilah Yunani yang digunakan umat Kristen untuk memaknai cinta tak berbatas, yang penuh pengorbanan diri antara orang-orang beriman, atau antara seorang beriman dengan Tuhan. Kata tersebut memiliki gairah lebih besar daripada filia, namun tidak sejelas eros, agapé adalah cinta yang tidak memiliki pengharapan, yang di dalamnya seorang pecinta direndahkan dan didisiplinkan sebelum dicintai. Sebuah pencarian Google bagi kata “agapé” dan “Islam” menghasilkan ratusan situs yang mengatakan bahwa istilah tersebut tidak ditemukan dalam bahasa Arab, dan menggambarkan Islam sebagai agama yang dingin dan tidak berperasaan karena ketiadaan kata tersebut.
Selama bertahun-tahun, Muslim Sufi telah merujuk kepada berbagai kata yang romantik dalam bahasa Arab bagi cinta dan membuat kata-kata itu berfungsi sebagai sebuah gagasan yang sangat serupa dengan agapé. Puisi Sufi yang berasal dari abad ke-10 dan ke-11, mengilhami budaya troubadour dan gagasan-gagasan cinta penuh kesantunan yang berkembang di kerajaan-kerajaan abad pertengahan di selatan Prancis, Navarre, dan Aragonne; salah satu perkembangan artistik positif yang muncul dari hubungan antara orang Eropa Kristen dan Timur Dekat Muslim selama Perang Salib. Tetapi banyak dari para pemikir terbesar Sufi, termasuk al Ghazali, sesungguhnya dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Platonik, Neoplatonik, dan Kristen Gnostik tentang cinta, tetap terpelihara di Timur Tengah abad pertengahan karena penerjemahan tulisan-tulisan berbahasa Yunani, Romawi, dan Bizantium ke dalam bahasa Arab dan Persia. Pertanyaan yang tersisa adalah: kita mengetahui Nabi Muhammad menginginkan umat Muslim untuk mencintai dan melayani Tuhan, tetapi adakah ia menginginkan mereka saling cinta-mencintai dengan Tuhan – dan mencerminkan cinta dan pengabdian ini satu sama lain?
Sederhananya, jawabannya adalah ya. Walapun ia secara klasik telah diabaikan oleh para pengecam Islam, ada sebuah kata bagi agapé dalam bahasa Arab. Ia membawa konotasi “ketakterbatasan” abstrak yang sama seperti kata Yunani tesebut, dan digunakan dalam konteks yang sama. Terlebih lagi, kata tersebut sepenuhnya asli; tidak dipinjam, disesuaikan, atau diserap dari bahasa lain. Kata bahasa Arab bagi agapé adalah mahubba, dan kata tersebut sangat menarik karena dua alasan: satu, karena ia berasal dari hub – dalam bentuk femininnya – yang berarti cinta. Dua, karena awalan ‘ma’. Penambahan huruf mim di awal sebuah kata dalam bahasa Arab berarti "orang yang melakukan/sedang melakukan", "yang melakukan/sedang melakukan ", atau "dalam suatu keadaan" dari kata yang mengikutinya. Junun berarti gila, dan majnun berarti "orang gila" atau "dalam keadaan gila"; baraka berarti rahmat, dan mubarak adalah "orang yang dirahmati" atau "dalam keadaan penuh kerahmatan ".
Karena itu, mahubba secara harfiah berarti “dalam cinta”, tetapi jarang digunakan dalam pengertian erotik. Ia dapat menggambarkan cinta di antara sesama manusia atau cinta kepada ilahi, dan paling sering digunakan dalam konteks spiritual untuk kedua hal tersebut. Kandungan implisit dalam mahubba adalah pengabdian; seorang pecinta menempatkan yang dicintainya di tengah wacana, dan berserah kepada tuntutan-tuntutannya. Penulis Fethullah Gulen menggambarkan mahubba sebagai "kepatuhan, kepasrahan, dan penyerahan tanpa syarat" kepada yang dicintai, dengan mengutip bait-bait Sufi Rabi'a al-Adawiya, "Jika engkau jujur dalam cintamu, engkau akan mematuhi-Nya, karena seorang pecinta taat kepada yang dicintainya."
Sekali lagi, walaupun gagasan mahubba disebarkan terutama oleh tokoh-tokoh Sufi selama berabad-abad, kata dan konsep tersebut sesungguhnya berakar dalam tradisi Islam arus utama: Al Qur'an ayat 3:31 kadang disebut 'ayat ul'mahubba', dan berbunyi: "Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikuti aku, dan niscaya Allah akan mengasihimu." Sebuah hadits qudsi (Perkataan Tuhan yang disampaikan kembali oleh Nabi Muhammad) yang diikutsetakan dalam kumpulan hadits susunan Imam Malik bahkan lebih jelas lagi: "Tuhan berkata, 'Cinta-Ku [mahubbati] hanya dimiliki mereka yang saling mencintai satu sama lain [mutahubinna] demi Aku, duduk bersama demi Aku, saling mengunjungi demi Aku, dan beramal dengan murah hati kepada satu sama lain karena Aku."
Mahubba berbeda dari agapé adalah satu hal yang sangat penting: karena melayani dan mendekati yang dicintai merupakan sebuah bentuk dari perjuangan pribadi yang terus berkelanjutan, mahubba adalah sebuah bentuk dari jihad. Jauh dari "jihad kecil" penuh kekerasan dan sembarangan yang dikhotbahkan oleh para militan, mahubba adalah sebentuk jihad yang lebih besar, atau jihad melawan nafsu kita sendiri. Adhaf Soueif benar kiranya: di jantung semua makhluk terdapat sumber kejatuhan mereka. Perjuangan melayani Tuhan, dan sesama umat manusia, karena cinta, merupakan jihad potensi kemanusiaan melawan jihad dari ideologi kekerasan. Jika dihidupkan lagi, ia memiliki kekuatan mengubah dunia.
Mengendalikan Cinta dengan Jihad
Pernahkah Anda merasa bahwa apa yang sedang Anda lakukan itu salah tapi masih juga dilakukan? Pendeknya, sudah tahu keliru tapi terus saja maju.
Itulah yang dialami seorang teman saya. Orangnya cerdas dan kini dia mendapat beasiswa untuk belajar di sebuah perguruan tinggi pendidikan agama terkenal di luar negeri. Kepiawaiannya sangat diakui rekan dan para dosennya. Bahkan karya tulisnya mengenai agama menghiasi majalah dan surat kabar. Namun dia mengeluh kepada saya, bahwa saat ini dia tak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan hubungan cinta jarak jauhnya. Ya, dia tengah menjalin cinta dengan seseorang yang sedang studi juga di negara lain sejak beberapa bulan ini. Benang-benang asmara terajut lewat email, chatting, dan SMS, nyaris setiap hari. Ada saja hal-hal yang saling dicurhatkan dan dilaporkan. Masya Allah!
Namun, konflik batin terus menggelayuti hati dan pikiran teman saya itu. Betapa tidak, dia tahu bahwa semua itu mengganggu konsentrasi belajarnya, apalagi saat ini dia sedang mempersiapkan ujian akhirnya. Terbayang jika gagal, maka orang tua yang siang malam mendoakannya pasti akan kecewa. Lebih-lebih lagi, dia juga paham bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah dosa yang bisa dikategorikan sebagai zina hati. Dia juga mengerti bahwa itu semua bisa terjadi karena godaan syaithan la’natullah, yang makin menggila kala imannya sedang lemah. Namun apa daya, dia merasa tidak sanggup melawan arus deras godaan cinta itu. Dia merasa terus terhanyut oleh buaian syaithan yang kali ini seakan berwajah manis. Bayangan sang kekasih sungguh sulit untuk dihapuskan. Pikirannya yang cerdas dan pengetahuan yang luas mengenai syariat Islam seakan berubah menjadi tumpul kala digunakan untuk mengatasi konflik batin ini.
****
Alhamdulillah, suatu saat dia mendatangi majelis taklim dan mendengar lantunan firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir: 6). Suara hafidz yang tartil itu sungguh merasuk dalam qalbunya dan menjadi media penghantar Nur Hidayah-Nya.
“Jihad...!!!” teriaknya tanpa sadar.
Benar sekali, jihadun nafs (jihad melawan hawa nafsu diri-sendiri) dan jihadusy syaithan (jihad melawan syaithan). Dua istilah yang intinya satu yakni jihad ini menggetarkan hati dan pikirannya. Teringat tausyiah salah seorang gurunya: “Kata Al-Jihad di-kasrah huruf jim secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi musuh, khususnya orang-orang kafir.”
Kuncinya adalah “Mengerahkan segala kemampuan, baik materi atau bahkan nyawa kita, untuk membela agama Allah dan melawan musuh Allah dan Rasul-Nya”. Jadi, jika usaha kita biasa-biasa saja atau sambil lalu belumlah dikatakan sebagai jihad.
Menurut Ibnul Qayyim ra., jihadun nafs adalah jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah. Sedangkan jihadusy syaithan ada dua tingkatan, pertama berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan syaithan pada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman. Orang yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Kedua, berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Orang yang mampu melakukannya akan membuahkan kesabaran. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.
Dua jenis jihad inilah yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sebelum jihadul kuffar (jihad melawan orang kafir yang menyerang aqidah Islam) dan jihadul munafiqin (jihad melawan orang munafiq yang yang menyerang aqidah Islam).
****
“Jadi... tunggu apa lagi”, pikir teman saya itu, “Musuh sudah jelas walaupun tidak tampak, yaitu syaithan. Jalan sudah ada, yaitu jihad. Saya akan mulai dengan berniat lilLaahi Ta’ala, sebab amal perbuatan akan sia-sia di mata Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang benar, Innamal a’malu bin niyyaat”. Beberapa program jihadun nafs dan jihadusy syaithan dia canangkan dan dia jalankan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan. Genderang perang melawan hawa nafsu dan syaithan ditabuhnya dengan menggelegar. Hatinya ikhlas, jika memang sang kekasihnya itu adalah jodohnya, Insya Allah akan dipertemukan dengannya dalam pernikahan yang syar’i.
Untuk mewujudkannya, tidak perlu komunikasi hotline 24 jam sehari dengan sang kekasih seperti yang sudah-sudah. Yang penting, amanah belajar harus dituntaskan dulu. Namun dalam masa belajar ini, adalah rugi di mata Allah jika hanya mempelajari pengetahuan duniawi tanpa mendasarinya dengan pengetahuan ukhrawi. Oleh sebab itu, jika suatu saat dia akan mengajak kekasihnya untuk menikah maka diniatkan sebagai ajakan untuk beribadah.
Jika godaan nafsu datang, dia hadapi dengan memperbanyak puasa, istighfar, dan zikir. Untuk meneguhkan hati dan fisiknya, dia perbanyak tilawatil Qur’an dan Qiyamul Lail. Jika ada perkara meragukan, apakah tergolong kebaikan atau justru keburukan, dia ingat sabda Rasulullah SAW: “Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik. Dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu.” (HR Muslim).
Teman saya itu senyum-senyum kecut jika ingat apa saja yang pernah dia lakukan selama ini. Kebodohan atau kekurang pengetahuannya memang berbuah kejahilan; menjahili apa-apa yang menjadi ketentuan Allah SWT, yaitu: apa yang disuruh-Nya dilalaikan, apa yang dilarang-Nya justru dijalankan sebaik-baiknya. Astaghfirullah...
Kini teman saya sangat bahagia karena merasa tidak dibiarkan oleh Allah SWT bergelimang dalam kesesatan dan maksiat. Ia merasa sangat bersyukur karena telah mendapat taufiq dan hidayah-Nya dalam mengendalikan cintanya dengan jihad.
Itulah yang dialami seorang teman saya. Orangnya cerdas dan kini dia mendapat beasiswa untuk belajar di sebuah perguruan tinggi pendidikan agama terkenal di luar negeri. Kepiawaiannya sangat diakui rekan dan para dosennya. Bahkan karya tulisnya mengenai agama menghiasi majalah dan surat kabar. Namun dia mengeluh kepada saya, bahwa saat ini dia tak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan hubungan cinta jarak jauhnya. Ya, dia tengah menjalin cinta dengan seseorang yang sedang studi juga di negara lain sejak beberapa bulan ini. Benang-benang asmara terajut lewat email, chatting, dan SMS, nyaris setiap hari. Ada saja hal-hal yang saling dicurhatkan dan dilaporkan. Masya Allah!
Namun, konflik batin terus menggelayuti hati dan pikiran teman saya itu. Betapa tidak, dia tahu bahwa semua itu mengganggu konsentrasi belajarnya, apalagi saat ini dia sedang mempersiapkan ujian akhirnya. Terbayang jika gagal, maka orang tua yang siang malam mendoakannya pasti akan kecewa. Lebih-lebih lagi, dia juga paham bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah dosa yang bisa dikategorikan sebagai zina hati. Dia juga mengerti bahwa itu semua bisa terjadi karena godaan syaithan la’natullah, yang makin menggila kala imannya sedang lemah. Namun apa daya, dia merasa tidak sanggup melawan arus deras godaan cinta itu. Dia merasa terus terhanyut oleh buaian syaithan yang kali ini seakan berwajah manis. Bayangan sang kekasih sungguh sulit untuk dihapuskan. Pikirannya yang cerdas dan pengetahuan yang luas mengenai syariat Islam seakan berubah menjadi tumpul kala digunakan untuk mengatasi konflik batin ini.
****
Alhamdulillah, suatu saat dia mendatangi majelis taklim dan mendengar lantunan firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir: 6). Suara hafidz yang tartil itu sungguh merasuk dalam qalbunya dan menjadi media penghantar Nur Hidayah-Nya.
“Jihad...!!!” teriaknya tanpa sadar.
Benar sekali, jihadun nafs (jihad melawan hawa nafsu diri-sendiri) dan jihadusy syaithan (jihad melawan syaithan). Dua istilah yang intinya satu yakni jihad ini menggetarkan hati dan pikirannya. Teringat tausyiah salah seorang gurunya: “Kata Al-Jihad di-kasrah huruf jim secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi musuh, khususnya orang-orang kafir.”
Kuncinya adalah “Mengerahkan segala kemampuan, baik materi atau bahkan nyawa kita, untuk membela agama Allah dan melawan musuh Allah dan Rasul-Nya”. Jadi, jika usaha kita biasa-biasa saja atau sambil lalu belumlah dikatakan sebagai jihad.
Menurut Ibnul Qayyim ra., jihadun nafs adalah jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah. Sedangkan jihadusy syaithan ada dua tingkatan, pertama berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan syaithan pada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman. Orang yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Kedua, berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Orang yang mampu melakukannya akan membuahkan kesabaran. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.
Dua jenis jihad inilah yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sebelum jihadul kuffar (jihad melawan orang kafir yang menyerang aqidah Islam) dan jihadul munafiqin (jihad melawan orang munafiq yang yang menyerang aqidah Islam).
****
“Jadi... tunggu apa lagi”, pikir teman saya itu, “Musuh sudah jelas walaupun tidak tampak, yaitu syaithan. Jalan sudah ada, yaitu jihad. Saya akan mulai dengan berniat lilLaahi Ta’ala, sebab amal perbuatan akan sia-sia di mata Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang benar, Innamal a’malu bin niyyaat”. Beberapa program jihadun nafs dan jihadusy syaithan dia canangkan dan dia jalankan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan. Genderang perang melawan hawa nafsu dan syaithan ditabuhnya dengan menggelegar. Hatinya ikhlas, jika memang sang kekasihnya itu adalah jodohnya, Insya Allah akan dipertemukan dengannya dalam pernikahan yang syar’i.
Untuk mewujudkannya, tidak perlu komunikasi hotline 24 jam sehari dengan sang kekasih seperti yang sudah-sudah. Yang penting, amanah belajar harus dituntaskan dulu. Namun dalam masa belajar ini, adalah rugi di mata Allah jika hanya mempelajari pengetahuan duniawi tanpa mendasarinya dengan pengetahuan ukhrawi. Oleh sebab itu, jika suatu saat dia akan mengajak kekasihnya untuk menikah maka diniatkan sebagai ajakan untuk beribadah.
Jika godaan nafsu datang, dia hadapi dengan memperbanyak puasa, istighfar, dan zikir. Untuk meneguhkan hati dan fisiknya, dia perbanyak tilawatil Qur’an dan Qiyamul Lail. Jika ada perkara meragukan, apakah tergolong kebaikan atau justru keburukan, dia ingat sabda Rasulullah SAW: “Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik. Dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu.” (HR Muslim).
Teman saya itu senyum-senyum kecut jika ingat apa saja yang pernah dia lakukan selama ini. Kebodohan atau kekurang pengetahuannya memang berbuah kejahilan; menjahili apa-apa yang menjadi ketentuan Allah SWT, yaitu: apa yang disuruh-Nya dilalaikan, apa yang dilarang-Nya justru dijalankan sebaik-baiknya. Astaghfirullah...
Kini teman saya sangat bahagia karena merasa tidak dibiarkan oleh Allah SWT bergelimang dalam kesesatan dan maksiat. Ia merasa sangat bersyukur karena telah mendapat taufiq dan hidayah-Nya dalam mengendalikan cintanya dengan jihad.
Langganan:
Postingan (Atom)
Ruang Tamu
Puncak Selera Jiwa
Pojok Hikmah
mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah
