PUISI YANG TETAP MEMBALUTNYA
KATA YANG BICARA PADA SEGALA
KENANGAN HARI LAHIR YANG TETAP MEMBUATNYA HIDUP
Sahabat,
Segala waktu yang melesat seperti anak panah
dan lepas bagai padang-padang sungai yang jernih
bergulir dan menghidupkan kita bait demi bait
seperti juga tentang segala gelak, perjalanan,
perjumpaan dan kaca-kaca bening yang pernah ternikmati
Aku tahu,
Puisi adalah jendela jiwa
Sekarang kau bicara tentang kekeringan, kegelisahan kata,
kengerian yang membalut disetiap tidurmu.
Padang-padang hatimu mulai membayangi tentang kesepian dalam
sendirimu,
mulai membayangi tentang segala puisi yang hambar jiwa,
dan segala kata yang mulai luntur maknanya.
percayalah,
puisi dan segala kata yang terbalut makna
akan terus hidup pada mereka yang teristimewa!
puisi akan terus mengalir
ia akan bergulir dengan manisnya
Perjalanan ini tidak hanya sepanjang cemara
Segala asa berdetak terus dalam pusaran waktu
(seperti juga semua kelampauan
untuk romansa-romansamu)
Kategori
Selasa, Juni 09, 2009
Sabtu, Juni 06, 2009
Ketika lisanku tak terjaga
Untukmu Wahai Orang Baik
Wahai orang baik
Potongan-potongan ayat suci Tuhan
Kau kirim dengan segenap rasa
Atas luka-lukamu yang berdarah
Untuk ku yang melukaimu
Wahai orang baik
Kumohon maafkanlah kesalahan lisanku
Jika itu telah melukai nafasmu
Mengendap dendam yang memburu
Berharap aku juga merasakan sakit itu
Wahai orang baik
Aku ingin kabarkan padamu
Beri maaf yang sempurna untukku
Maaf yang sempurna
Dengan segenap jiwa
Kemanusiaanku
Tapi kumohon …
Jangan kau kirim lagi
Ayat-ayat dan titah nabi
Yang melukaiku berkali-kali
Bukan menyadarkanku
Tapi membuatku mengutuk setiap kekuranganku
Bukan mengingatkanku
Tapi menohok kehidupanku
Kumohon…
Biar aku belajar sendiri
Makna kesucian yang hendak kau sampaikan
Lewat ayat-ayat Tuhan
Kumohon…
Berhentilah…
Asal kau tahu
Andai dapat memutar waktu
Maka aku berharap bisa melebur kataku
Menjadi debu yang mengendap
dan takkan terucap
Berharap dalam garis nasib yang telah kering
Akan kubasah dengan airmata
Mencoret sebaris namamu
Dalam setiap memori waktuku
Wahai orang baik
Potongan-potongan ayat suci Tuhan
Kau kirim dengan segenap rasa
Atas luka-lukamu yang berdarah
Untuk ku yang melukaimu
Wahai orang baik
Kumohon maafkanlah kesalahan lisanku
Jika itu telah melukai nafasmu
Mengendap dendam yang memburu
Berharap aku juga merasakan sakit itu
Wahai orang baik
Aku ingin kabarkan padamu
Beri maaf yang sempurna untukku
Maaf yang sempurna
Dengan segenap jiwa
Kemanusiaanku
Tapi kumohon …
Jangan kau kirim lagi
Ayat-ayat dan titah nabi
Yang melukaiku berkali-kali
Bukan menyadarkanku
Tapi membuatku mengutuk setiap kekuranganku
Bukan mengingatkanku
Tapi menohok kehidupanku
Kumohon…
Biar aku belajar sendiri
Makna kesucian yang hendak kau sampaikan
Lewat ayat-ayat Tuhan
Kumohon…
Berhentilah…
Asal kau tahu
Andai dapat memutar waktu
Maka aku berharap bisa melebur kataku
Menjadi debu yang mengendap
dan takkan terucap
Berharap dalam garis nasib yang telah kering
Akan kubasah dengan airmata
Mencoret sebaris namamu
Dalam setiap memori waktuku
Hatiku belum lembut, lisanku belum halus.
Allah SWT yang Maha Baik, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu tidak pernah tidak mengabulkan doa hambaNya. Termasuk doaku. Hanya saja aku belum pintar untuk memaknai dan menyikapi doa-doaku yang terkabul itu.
Kesalahanku bersikap, salah berucap, dan salah memikirkan sering menggagalkan dan menolak secara tidak sengaja terkabulnya doa. Secara tidak sengaja karena aku merasa belum mengerti dan masih sangat perlu pembelajaran tentang kesabaran dan keikhlasan akan ketetapan Allah SWT, akan terkabulnya doaku tadi.
Allah pasti telah menyediakan pijakan-pijakan untuku, agar aku dapat meraih impianku yang selalu aku gumamkan dalam doa-doaku. Namun mulai samar tersadar kini bahwa aku kurang terampil, kurang sabar dan kurang ikhlas menapaki pijakan yang sudah Belaiu sediakan untukku.
Aku mohonkan pada-Nya agar aku diberi rahmat hati yang lembut, tutur kata yang halus dalam keseharianku. Aku pun diketemukan dengan kondisi dimana seorang teman yang membutuhkan satu informasi yang kebetulan aku yang mengetahui informasi itu. Beliau menanyakannya padaku. Dan beberapa pertanyaannya aku simpulkan sebagai cerewet dan “ngeyel”, sehingga tanggapankupun kurang bersahabat pada temanku itu. Alasanku adalah, aku sibuk, kenapa temaku ini tidak mengerti?. Tidak ada kata-kata kasar yang keluar –menurutku-, tapi kurang bersahabat.
Aku tidak berbohong dengan alasanku itu, dan tidak salah juga sebenarnya kalau aku menyimpulkan temanku itu cerewet. Tetapi setelah percakapan itu selesai, aku ditegur oleh hati nuraniku “kenapa kamu bersikap seperti itu?”. Rasa menyesal menghinggap dan mengganggu ketenanganku hatiku, dan gangguannya lebih mengena daripada gangguan temanku tadi.
Aku tidak sabar, aku tidak peka dan tidak ikhlas dengan ujian yang Allah SWT beri.
Itu sebabnya hatiku belum lembut, lisanku belum halus.
Kesalahanku bersikap, salah berucap, dan salah memikirkan sering menggagalkan dan menolak secara tidak sengaja terkabulnya doa. Secara tidak sengaja karena aku merasa belum mengerti dan masih sangat perlu pembelajaran tentang kesabaran dan keikhlasan akan ketetapan Allah SWT, akan terkabulnya doaku tadi.
Allah pasti telah menyediakan pijakan-pijakan untuku, agar aku dapat meraih impianku yang selalu aku gumamkan dalam doa-doaku. Namun mulai samar tersadar kini bahwa aku kurang terampil, kurang sabar dan kurang ikhlas menapaki pijakan yang sudah Belaiu sediakan untukku.
Aku mohonkan pada-Nya agar aku diberi rahmat hati yang lembut, tutur kata yang halus dalam keseharianku. Aku pun diketemukan dengan kondisi dimana seorang teman yang membutuhkan satu informasi yang kebetulan aku yang mengetahui informasi itu. Beliau menanyakannya padaku. Dan beberapa pertanyaannya aku simpulkan sebagai cerewet dan “ngeyel”, sehingga tanggapankupun kurang bersahabat pada temanku itu. Alasanku adalah, aku sibuk, kenapa temaku ini tidak mengerti?. Tidak ada kata-kata kasar yang keluar –menurutku-, tapi kurang bersahabat.
Aku tidak berbohong dengan alasanku itu, dan tidak salah juga sebenarnya kalau aku menyimpulkan temanku itu cerewet. Tetapi setelah percakapan itu selesai, aku ditegur oleh hati nuraniku “kenapa kamu bersikap seperti itu?”. Rasa menyesal menghinggap dan mengganggu ketenanganku hatiku, dan gangguannya lebih mengena daripada gangguan temanku tadi.
Aku tidak sabar, aku tidak peka dan tidak ikhlas dengan ujian yang Allah SWT beri.
Itu sebabnya hatiku belum lembut, lisanku belum halus.
KADO KECIL BUAT ISTRIKU
ISTRIKU......DENGARLAH... DEKAP...DEKAPLAH AKU
AKU SANGAT MENCINTAIMU...
MARI KITA BUANG DUKA... KITA KAN SALING MENYAYANGI...
MARI KITA BAGI SUKA
HENDAKNYA PERTENGKARAN KECIL SEGERA DAPAT DIATASI
BAHKAN JADI PENYEGAR CINTA KITA
HENDAKNYA PERKAWINAN INI BUKAN SEKADAR CINTA KASIH
TAPI JUGA SEBUAH TANGGUNG JAWAB
MARI TUNTAS KITA REGUK SATU GELAS BERSAMA
BAHAGIA... SUNGGUH BAHAGIA
ISTRIKU... MARI KITA RENUNGKAN
JALANAN TERJAL BERLIKU
KITA 'KAN MAMPU MELEWATINYA BERSAMA
MARI KITA BERGANDENG TANGAN
ISTRIKU... DUDUKLAH ISTIRAHAT SEJENAK
ATUR NAFASMU DAN TENANGLAH
KITA AKAN SEGERA BERANGKAT
BERLAYAR MENEMBUS PEKAT
HENDAKNYA KITA KAN BERLABUH
DI PANTAI YANG PENUH KEMBANG
HARUM WANGI SEMERBAK... ADALAH SURGA
KITA AKAN MEMBUANG SAUH
BERENANG KE PINGGIRAN
PELUK... PELUKLAH AKU
LEBURKAN JIWA RAGA KITA
KEMUDIAN KITA BERIKRAR
BAHAGIA... OH BAHAGIA
KUPERSEMBAHKAN UNTUK ISTRIKU TERCINTA
AKU SANGAT MENCINTAIMU...
MARI KITA BUANG DUKA... KITA KAN SALING MENYAYANGI...
MARI KITA BAGI SUKA
HENDAKNYA PERTENGKARAN KECIL SEGERA DAPAT DIATASI
BAHKAN JADI PENYEGAR CINTA KITA
HENDAKNYA PERKAWINAN INI BUKAN SEKADAR CINTA KASIH
TAPI JUGA SEBUAH TANGGUNG JAWAB
MARI TUNTAS KITA REGUK SATU GELAS BERSAMA
BAHAGIA... SUNGGUH BAHAGIA
ISTRIKU... MARI KITA RENUNGKAN
JALANAN TERJAL BERLIKU
KITA 'KAN MAMPU MELEWATINYA BERSAMA
MARI KITA BERGANDENG TANGAN
ISTRIKU... DUDUKLAH ISTIRAHAT SEJENAK
ATUR NAFASMU DAN TENANGLAH
KITA AKAN SEGERA BERANGKAT
BERLAYAR MENEMBUS PEKAT
HENDAKNYA KITA KAN BERLABUH
DI PANTAI YANG PENUH KEMBANG
HARUM WANGI SEMERBAK... ADALAH SURGA
KITA AKAN MEMBUANG SAUH
BERENANG KE PINGGIRAN
PELUK... PELUKLAH AKU
LEBURKAN JIWA RAGA KITA
KEMUDIAN KITA BERIKRAR
BAHAGIA... OH BAHAGIA
KUPERSEMBAHKAN UNTUK ISTRIKU TERCINTA
ANTARA PAGI DAN MALAM HARI
Tenanglah hatiku, karena langit tak pun mendengari
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.
DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
Kulihat seorang bidadari telanjang menari-menari di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.
DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
Kulihat seorang bidadari telanjang menari-menari di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?
Langganan:
Postingan (Atom)
Ruang Tamu
Puncak Selera Jiwa
Pojok Hikmah
mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah
