Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kategori

Artikel (4) Dakwah (7) Motivasi (3) Muhasabah (11) Munajah (7) Prosa (5) Puisi (18) Tarbiyah (2)

Jumat, Februari 27, 2009

Surat untuk Sahabat


Sahabat, semoga senantiasa kita bisa menapaki jalan ini dengan lurus dan tetap pada ridho-Nya. Persahabatan yang telah qita jalin semoga bisa menjadi ladang amal agar perjalanan ini menjadi berwarna dengan warna2 yang indah.

Tahukah sahabat, jika setiap orang itu memilki dunia yang berbeda. Semakin kita banyak memiiki sahabat maka semakin banyaklah dunia yang kita jumpai, maka semakin luas pulalah wawasan kita.

Aku adalah sosok yang apa adanya. Terlahir dari rahim suci yang penuh kasih. Aku adalah bersih, maka jika sekarang aku menjadi kotor maka itu karena ulahku sendiri. Untuk itu tolong untuk selalu menasihati dan mengingatkanku sahabatku.

Aku adalah aku. Takkan semua orang tahu pasti akan aku, bahkan mungkin semuanya. Aku hanyalah sosok yang ingin hadirku menebarkan kasih sayang, keceriaan, kedamaian, keoptimisan & kemaslahatan yang lain.

Marilah kita semua tersenyum untuk sebuah kemenangan. Yakin masa depan gemilang di tangan kita.

Di Sudut Jendela


Untuk seorang mahasiswaku

07:44:00
Dari jendela, terlihat kau saudaraku
Laju melangkah bagaikan terburu-buru
Terasingkah atau mencari sesuatu
Keresahan tercerita di wajah mu

Mengapakah terhenti langkah mu di situ
Malukah kau mengetuk pintu ku
Ingatkah kau akan bergunung-gunung intan
Lambang budi yang telah kita taburkan

Kita hanya insan-insan yang lemah
Bersama berpaut sebelum rebah
Hulurkan tangan ku dan sambutlah tangan ku
Kau akan tahu nilai persahabatan
Sambut Uluran Tangan ku.. sudikah?

Bahagiaku : Untuk Mahasiswaku


sederhana, namun menyimpan sebuah kekuatan yang dapat membuka mata hingga terlihat jelas arti hidup..satu lagi yang membuatku tersentak pagi ini ketika ada catatan sederhana dalam buku tamu blogku, yang sepertinya sengaja dibuat untukku, sebuah catatan yang menggugah nurani untuk sadar dari kebekuan ukhuwah.
aku tahu aku salah...dan torehan sederhana itu mengingatkankanku.
sebuah karya sastra sebagai ekspresi jawaban atas ukhuwah yang tersekat.

Bahagiaku,

Tatkala
seorang kawan menyampaikan kalimat pengingat diri,
Untaian
kata pelipur duka,
Untaian
kata pembangkit jiwa,
Untaian
kata menuju keridhoanNYA,

Bahagiaku,

Tatkala
terucap kata “ana uhibbuk fillah” dari mulut seorang sahabat,
Sambutan hangat atas rasa cinta yang lahir karenanya.
Dan suka cita yang menghampirinya dengan atau tanpa perantara diri ini.


Kamis, Februari 26, 2009

Usai Sudah Duka, Esok Harus Ceria




Catatan Refleksi Untuk "Presiden Mahasiswaku"

Kamis, 26 Februari 2009 malam
aku dikejutkan oleh SMS dari seorang mahasiswaku, SMS yang mengajakku untuk tidak bersedih ( dengan mengutip pesan dari A'idh al Qarni). entahlah, aku hanya berpikir mungkin nampak diwajahku bulir kesedihan hingga mahasiswaku pun menghiburku.

hanya saja, jam 02.44 dini hari, SMS datang kembali dari orang yang sama dengan nuansa yang berbeda, kini ia berduka, ia bersedih...karena masa lalu yang kelam
sejenak aku bingung.
ya...aku memohon maaf karena aku tak sanggup menyelami maksudnya.
kucoba replay dengan beberapa nasehat untukku dan untuknya.

malam ini kucoba sampaikan pesan al Qarni, sebagai refleksi untuk kita semua.
_________________


Mengenang masa lalu untuk kemudian bersedih atas semua kegagalan yang pernah dialami merupakan tindakan sia-sia, membunuh semangat, memupus harapan dan mengubur masa depan.

Muslim yang berpikir cerdas akan melipat berkas-berkas masa lalu, ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘gudang lupa’, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ acuh buat selamanya, karena masa lalu telah berlalu. Kesedihan dan keresahan tak akan mampu memperbaikinya kembali. Kegundahan tak akan mampu merubahnya menjadi terang, karena memang ia sudah tiada.

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri kita dari bayangan masa silam. “Apakah kita ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya dan air mata ke dalam kelopaknya ?

Ingatlah, keterikatan kita dengan masa lalu, keresahan kita atas apa yang telah terjadi adalah tindakan yang sangat naif, ironis, memprihatinkan dan menakutkan. Membaca kembali lemba-ran masa lalu hanya akan memupus masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Al-Qur’an mengajarkan setiap kondisi yang menerangkan suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah swt selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, tak ubahnya seperti menumbuk tepung, menggergaji serbuk kayu. Orang tua-tua kita mengajarkan, “Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”.

Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan hanya karena disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab yang demikian itu mustahil, karena angin selalu berhembus ke depan, air selalu mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan maju ke depan.

Maka itu, jangan pernah melawan sunnah kehidupan! Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dan bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita dan siangnya menyapa, inilah hari kita.

Umur kita mungkin tinggal hari ini. Anggaplah masa hidup kita hanya hari ini. Seakan-akan kita dilahirkan pada hari ini dan akan mati hari ini. Dengan begitu, hidup kita tidak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka cita masa lalu, atau bayangan masa depan yang penuh ketidak pastian bahkan acapkali menakutkan.

Mari curahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras untuk hari ini. Mari bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang penuh penghayatan, zikir dengan sepenuh hati. Keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, ridho dengan semua yang Allah swt berikan, berempati terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta berbuat baik terhadap sesama.

Pada hari dimana kita hidup, saat inilah sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak. Jadikan setiap menitnya laksana seribu tahun dan setiap detiknya laksana seratus bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari ini. Persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari ini.

Bertaubatlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya. Bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan penuh kesenangan dan kebahagiaan. Terimalah rezeki, istri, anak, tugas, ilmu, dan amanah hari ini dengan penuh keridhoan.

“Maka berpegang teguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hen-daklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS.Al-A’raf: 144).

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian, dan kebencian. Jangan lupa, hendaklah kita goreskan pada dinding hati kita satu kalimat : “Hari kita adalah hari ini”.

Bila hari ini kita dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka jangan pernah peduli dengan nasi basi yang telah kita makan kemarin atau nasi hangat esok hari yang belum tentu ada. Jika kita percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat maka kita akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: “Saya hanya akan hidup hari ini.” Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri kita setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi dan mensucikan semua amalan.

Dan itu akan membuat kita berkata dalam hati:

“Hanya hari ini saya berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tiada berucap kotor yang menjijikan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Karena hanya akan hidup hari ini maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah swt, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunnah, berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfat. Saya hanya akan hidup di hari ini, karenanya saya akan menanamkan dalam hati, semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan, berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, sombong, ujub, riya, dan buruk sangka. Hanya hari ini saya dapat menghirup udara kehidupan, saya akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Saya akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu orang yang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang yang berilmu, menyayangi anak-anak kecil dan berbakti kepada orang tua.”

Saya hanya akan hidup hari ini, maka saya akan mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu. Kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedikitpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

Hari ini milik kita adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang indah dan menyenangkan.



(Bacaan : Dr. A’id Al-Qarny. La Tahzan).


MEMILIH HIDUP DI JALAN DAKWAH


Adil Muhammad, SS.

Taqdim
Hidup memiliki arus kehidupan tersendiri yang terus berjalan sepanjang kehidupan itu ada, ia memiliki sunanul hayah berupa ketentuan hidup yang telah ditetapkan Allah. Salah satu kepastian hidup itu adalah kebaikan akan berakhir pada kebahagiaan sednagkan keburukan akan berakhir sengsara, ini adalah garis kehidupan yang tidak akan berubah.
Itulah jalan yang haus kita lalui, hingga titik akhir memperoleh keridhoan. Dari setitik kehidupan harus kita lalui hingga mencapai kehidupan akhirat, dan jalan bahagia tentunya menjadi kehendak kita.
Dan pilihan hidup kita jatuh pada jalan da’wah, jalan yang kita yakini sebagai jalan mulia yang berujung bahagia. Maka, ada banyak pelajaran dalam ragam suasana yang kita rasakan di jalan ini perlu uraikan sebagai bekal hiburan untuk betah di jalan ini. Bahagialah kita jika Allah memili kita bersama di jalan ini. Teringat perkataan Allah : “ Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkanmu daripadanya.” ( 3 : 103 ). Alhamdulillah hadaana lihadza……. Nikmat ini tidak boleh diremehkan, kita harus jaga…jangan sampai hilang dari kita. ( 3 : 8 )

Awal Bersama Da’wah
Barang siapa yang tidak benar permulaan kehendaknya,
niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya ( Hikmah )

Renungkan selalu, Mengapa kita ada dijalan ini ?, banyak jawaban untuk itu, tapi yang terpenting kita pahami bahwa da’wah ini sesungguhnya adalah kebutuhan bukan sekedar kewajiban, bahkan lebih dari itu bersama dakwah dalah kesyukuran atas hidayah. Kita harus selalu hidup dinamis dengan menjadikan pesan-pesan dakwah Rasululullah sebagi pemicu gerak……..*
Sisi lain, kebersamaan kita dalam dakwah tidak lepas dari jasa pendahulu kita kenal atau tidak, malaikat senantiasa mencatat pahala dakwah mereka hingga kiamat kelak. Kebutuhan kita pada dakwah karena kita menginginkan seperti mereka dengan nikmat pahala dari Allah. ( Ingat Doa makhluk untuk da’i, HR. Tirmidzi )
Alasan lain, dakwah menjadi penghalang turunnya adzab Allah dan penghalang fitnah bagi keseluruhan makhluk ( Al A’raf : 164, Ali Imran ). Berhadapan dengan dakwah manusia terbagi 3 : shalih linafsisi wa lighairihi, shalih linafsihi qat, Dzolim lidda’wah wa lighairihi. ( Al A raf : 165, hadits ma. Tentang pertanyaan zaenab pada Rasul, juga Abubakar ), bersama da’wah semoga menjadi langkah penyelamatan terhadap diri dan manusia.
Sebelum memulai perjalanan bersiap siagalah : 1. siapkan kondisi psikis ( terutama niat yang tulus ) dan fisik terutama saat meghadapi jalan panjang berliku melelahkan atau jalan nikmat melenakan. 2. pilih teman yang baik ( ar rafiiq as ahaleh qabla ath thariq ) dan biarkan Allah yang memilihkan teman bagi kita. Mereka itulah yang disinggung Allah sebagai pemenang ( 3 : 104 ). 3. diantara syarat perjalanan adalah pemimpin, setelah itu beramal jama’i adalah keniscayaan, tsiqoh dan ta’at pada syuro adalah rambu kesolidan.
Jalan ini, adalah miniatur perjalan hidup sesunggunya, akan banyak permasalahan dalam interaksi, namun tetaplah bersama merangkai pelangi yang terlihat ditengah keragaman warna, toleran, ukhuwah, tsiqah adalah kekuatan yang akan menghimpun hingga ke akhir jalan bahagia. Tapi jalan ini, tetap saja menyimpan karakter yang perlu kita tahu, ada 3 kelompok manusia di jalan ini : Dzolimun linafsihi ( lalai dari bekal ), muqtasidun ( berbekal secukupnya ), sabiqun bil khairat ( yang berobsesi meraih keuntungan maksimal dengan bekal maksimal ). Fatazawwadu…..

Membangun Kebersamaan
Ingatkah kita analogi dakwah Rasul ? dakwah adalah bangunan sejak awal kenabian dan Rasulullah menjadi penutup yang akan memperindah bangunan dakwah itu ( istimroriyah ad dakwah ), sehingga dakwah sesungguhnya adalah estafeta perjuangan hingga akhir kehidupan. Bagunan itu harus kokoh karena perlu kualitas batu bata yang baik dengan posisi beraneka ragam, bahkan terkadang perlu memotong batu batu itu. Disanalah seni kehidupan kita, benar-benar unik dan khas, kita pun memiliki kekhasan sebagaimana sahabat Nabi dulu, karenanya bertahanlah pada posisi dimana bangunan ini menghendaki.
Hal lain yang penting di jalan ini, bahwa kita sesungguhnya kaum penolong, bukan yang akan ditolong. Karena idup kita untuk kemashlahan besar. Hidup milik Allah, milik umat bukan pribadi. Karena peruntukan prbadi akan sirna, dan kebaikan umum itulah yang abadi. ‘’ innalladzina ya’idzuna linafsihi, yaisyu shagiran wa yamuutu shagiron. Walladzi ya’isy liummatih, ya’isyu adziman kabiran wa laa yamutu abada. ( Sayyid Quthb ), Jika engkau menolong ( agama ) Allah………Muhammad : 9
Kebesamaan kita paling tidak harus terikat pada 5 hal : rabtul aqidah, rabtul fikroh, rabtul ukhuwah, rabtut tandzim, rabtul ahdi. Semoga ikatan ini memelihara kita dari keterhempasan. Berhati-hatilah dari : su’ul fahm, al khauf wa wahn, irtibatul fardi.

Menikmati perjalanan.
Barangkali manusia mengira kitalah orang yang paling merugi, karena banyaknya pengorbanan, energi dan konstribusi yang kita distribusikan untuk kepentingan perjuangan, biarlah mereka menyangkakan itu, tetapi bagi kita kenikmatan bersama dalam barisan dakwah dan obesesi pertemuan dengan Allah lebih besar dari sekedar apa yang kita persembahkan. Karenanya, bertahanlah…dan jangan peduli apa kata mereka para pencibir dakwah. Senantiasalah bersama dan luruskan niat. Sabda Rasul :“tiga hal yang mengalangi kedengkian orang muslim. Keikhlasan, nasihat kepada pemimpin dan berpegang pada jama’ah.” ( HR. Tirmidzi )
Ya, kewajiban kita memang lebih banyak dari waktu yang tersedia. Karenanya Islam banyak mengarahkan kita untuk menghargai memaksimalkan waktu yang kita dapat. Dalam perjalanan ini, sekali lagi…interaksi antar juru dakwah menjadi sentral perhatian demi kekohan struktur dakwah. Ta’aruf, tafahum dan takaful adalah keharusan bagi kita untuk selamat dari fitnah perceraian dalam melewati jalan ini. Siapa yang tidak terhimpun dalam al haq dia akan diceraiberaikan oleh kebatilan.
Yang tak terlupakan adalah, kenikmatan membina diri dan orang lain. ( la an yahdiyallahu bika….HR Bukhari )
Di sisi lain, Bukan tidak mungkin dalam jalan ini, ada fenomena tidak mengenakkan dalam kebersamaan. Tapi dakwah mengajarkan pada bahwa jika bertemu dengan situasi tersebut maka pertama bercerminlah pada diri sendiri. Kaji yang tersirat bukan yang tersurat. ( ingat kisah Musa dan Khidir dalam al Kahfi ), tapi bukan berarti, tidak ada cacat dal jama’ah dakwah, hanya menghukumi tidak hanya pada dzohir saja. Ya, kita semua manusia..kecewa dan salah sangat mungkin, tapi haruskan bangunan ini roboh, ingat perjuangan awal kita. Sahabat Rasul pun demikian, ini bukan justifikasi tetapi seni yang harus dilalui tanpa mengorbankan dan mengikis persatuan. Kita punya mekanisme, mari berjalan diatasnya.
Yang cukup besar adalah spektrum politik sebagai salah satu ketetapan langkah yang dilalui dan masih saja menimbulkan kontrofersi sengit pada tataran praktisnya, begitulah kira-kira satu langkah yang harus dilalui menuju kebahagiaan. Tapi akankah kita juga turut membenturkan antara dakwah dan politik? Atau kita sendiri pun masih terus saling berbenturan? Kita akaui, wilayah ini adalah wilayah rawan, kesalahan sekali lagi sangat mungkin dan merupakan resiko sebuah aktifitas, karena kita bukan malaikat, tapi yang terpenting, mari kita perilahara dominasi kebaikan saudara dan menjadikan kesalahan sebagaii pelajaran, mundur dari dakwah bukan jalan terbaik. Nasihat adalah tiang penyangga bangunan kita.
Perjalanan Tanpa Ujung ; Bekal Ruhiyah Meringankan Langkah
Perjalanan melelahkan, lelah akan menjadi beban ketika diraskan sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka kesempitan dalam jalan ini menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmah Allah Swt. Bekali diri senantiasa dengan : keyakinan, ta’abbudiya, saling medoakan ( asy Syuara : 26 ), dan baca siroh pada da’i shalih mushlih.
Biarkan keletihan menjadi energi, kesulitan menambah kekuatan, potensi menjadi tergali dan bergerak menuju manusia paripurna.
Yang pasti perjalan ini tidak boleh berhenti, karena memang jalan ini tak berujung, bahkan usia dakwah lebih panjang dari usia kita, wariskan gerakan, hingga Allah tunjukkan Kebahagiaan hakiki bertemu dengan-Nya dalam ridho-Nya.
Amin Yaa Mujiibud da’watis saailiin.

Wallahu A’lam.
17.15 - 19.05, di Ar Rahmah 12 September 2008
Taujih Tarbawiyah 12 Ramadhan 1429 H

Ruang Tamu


Tinggalkan Pesan Terbaikmu

Puncak Selera Jiwa

Pojok Hikmah

mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah