Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kategori

Artikel (4) Dakwah (7) Motivasi (3) Muhasabah (11) Munajah (7) Prosa (5) Puisi (18) Tarbiyah (2)

Minggu, April 19, 2009

Teman sejatiku itu...........



Teman sejatiku itu...........
dia yang mau menegurku kala aku salah, dia tak hendak menjerumuskanku pada rasa ujub maha tinggi yang mencengkeramku. Dia senantiasa bersikap sesuai kondisiku, dan dia tak takut bahkan dengan mukaku yang sedemikian seram (Katanya). Dia senantiasa berada pada posisi yang tepat, saat aku marah dia mampu membuatku tenang, kala aku sombong ia mampu menundukkan hatiku, kala aku benci dengan seseorang dia mampu mengademkan pikiranku.

Teman Sejatiku...........

Dia tidak mau mengikuti obrolanku yang kadang suka nglantur. Saat seperti itu aku sebel sama dia tapi setelah beberapa waktu berlalu aku jadi berterimakasih padanya, betapa ia telah menghindarkanku dari jurang dosa. Dia tak ingin menyenangkanku hanya sementara, apalagi hanya manis di bibir saja.

Teman sejatiku............

Dia senantiasa mengingatkanku padaNYA, yah hanya padaNYA. Kala aku bilang "Aku benci ikhwan belagu, aku benci ikhwan sok gitu" de es be maka dengan bijak ia menjawab "Mungkin beliau lagi khilaf".

Subhanallah..betapa rindu aku dengan teman sejati seperti itu. Ya Rabb pertemukan aku dengannya.

Amin




Sabtu, April 18, 2009

Pengorbanan itu indah, friend !


Bila kita mengerti bahwa pengorbanan adalah untuk keuntungan kita juga,

dan apabila kita mengerti bahwa yang kita berikan sebagai korban adalah hak mereka yang menerima,

dan bila kita percaya bahwa janji itu benar -

maka sebuah pengorbanan sama sekali bukan sebuah pengorbanan,

tetapi sebagai sebuah tindak kasih sayang,

sebuah kecintaan bagi jiwa-jiwa besar

(Mario Teguh - Sacrifice)



Seringkali kita menuntut seseorang untuk memenuhi permintaan kita sebagai prasyarat untuk memberikan permintaannya, walau terkadang kita menyadari bila orang tersebut berada dalam posisi yang seimbang atau bahkan kurang dari kita. Tidak jarang pula kita sampai hati untuk mengucapkan kalimat : "kalau kamu sudah berubah, baru saya akan berubah", atau kalimat lain yang setara dengannya.

Keadaan ini akan berputar tanpa akhir, hingga salah seorang diantaranya dapat mengerti arti "pengorbanan".

Sungguh merupakan suatu anugerah bila kita diberikan sesuatu yang sangat kita butuhkan. Walau terkadang sesuatu yang diterima tersebut, ternyata juga merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh orang yang memberi.

Apakah kita akan merasa bahagia ketika menerima pemberian ini ?

Pada awalnya saya menjawab dengan keyakinan tinggi bahwa yang menerima tentu akan merasa bahagia. Namun semakin saya renungkan keyakinan tersebut semakin memudar.

Dalam perenungan saya, tergambar ada dua orang kakak beradik yang kekurangan, berjuang untuk mendapatkan makanan yang sangat berguna untuk mengusir kelelahan dan kelaparan yang senantiasa menghampiri.

Tidak jarang dua kakak beradik ini menambatkan harapannya kepada orang-orang yang lebih beruntung, untuk mengetuk nurani agar dapat mendapatkan sisa dari yang telah selesai dinikmatinya. Namun tidak jarang juga, harapan ini berakhir dengan keserahan.

Saya membayangkan pada suatu waktu, sang kakak yang telah menahan lapar seharian, mendapatkan sepotong roti yang masih segar. Namun sang adik tidak mendapatkan apa pun untuk dimakannya pada malam yang telah larut itu.

Bila ia memakan roti tersebut, maka adiknya akan tidur dalam keadaan menahan lapar yang menggerus dalam dinginnya malam.

Sang kakak yang sangat mengasihi adiknya, akhirnya memberikan sepotong roti tersebut kepada adiknya untuk dimakan.

Cinta itu jujur, sederhana dan cantik.

Bila perasaan itu jujur, ia tidak membutuhkan penjelasan yang berkepanjangan

Timbul pertanyaan dalam benak saya :

Apakah yang dirasakan oleh sang kakak ketika melihat adiknya makan, sedangkan dirinya harus kembali menahan lapar ?

Sepertinya saya dapat tersenyum dan menjawab bahwa sang kakak pasti merasakan kebahagian yang mengalahkan rasa laparnya.


Apakah yang dirasakan oleh sang adik ketika menerima pemberian tersebut, sedangkan kakaknya berkorban untuk menahan lapar ?

Sepertinya saya hanya terdiam dan menjawab bahwa sang adik mungkin merasakan kesedihan dalam setiap potongan roti yang dimakannya.



Kadang kala akan timbul suatu perasaan bersalah ketika kita menerima pemberian tersebut, namun kita tidak cukup kuat untuk menolak pemberian tersebut.

Ketulusan mungkin terlihat sederhana dan santun,

tetapi ia memiliki kekuatan yang dijamin oleh keajaiban


Dari kisah ini, saya mendapati beberapa point hasil perenungan sesaat :

Berkorban adalah memberi dalam kekurangan

Berkorban membutuhkan perasaan cinta kasih yang besar

Berkorban memerlukan keikhlasan tanpa mengharapkan balasan

Berkorban mengalir dari orang yang lebih kuat

Berkorban membangun respek diri

Berkorban memberikan perasaan bahagia


Ternyata tidak ada yang dikurangkan pada saat berkorban, termasuk harga diri dan ego kita.

Dan bila kita benar-benar mengasihi, kita akan rela untuk mengorbankan apa saja, termasuk diri ini untuk keselamatan dan kebahagian orang yang kita kasihi. Hal ini jugalah yang menjadi dasar keberanian seorang ibu yang lembut ketika menerjang seekor buaya besar yang sedang mengancam keselamatan anaknya.


Anda belum benar-benar mengasihi,

sampai Anda menyerahkan diri Anda sepenuhnya.


Anda bisa memberi tanpa mengasihi,

tetapi Anda tidak mungkin bisa mengasihi tanpa memberi.


Kasih sayang adalah pemberian,

maka kasih sayang dengan nilai tertinggi adalah yang memberikan keseluruhan hidup kepada yang dikasihinya

Bila demikian besar kasihmu, mengapa begitu sulit bagimu untuk berkorban ?

Penderitaan adalah api yang membentuk emas,

atau api yang mengubah kayu menjadi arang yang legam

Kita cenderung untuk berfokus pada rasa sakit,

lebih daripada upaya kita untuk meredakan rasa sakit itu

Kita cenderung untuk berfokus pada rasa sakit,

lebih daripada upaya kita untuk meredakan rasa sakit itu





Semoga tulisan ini dapat menambahkan kekuatan dalam mengasihi orang-orang terdekat kita.



Jumat, April 17, 2009

Getirnya Perpisahan


Terpisah darimu bukanlah sesuatu yang mudah bagiku, membutuhkan energi besar sekedar melupakanmu sejenak. Engkau terlampau indah untuk dilukiskan dalam torehan pena, bahkan belum kutemukan kata untuk melukiskan indahmu. Kadang kuberharap kau tak mengusik tenangku, tetapi bayangmu terlampau sulit untuk dihapuskan, ia selalu saja hadir menggoda naluri, hingga terasa sekujur tubuh terkapar menikmati getirnya rindu. Andai tak kumili Tuhan yang mengajari porsi cinta, maka mungkin aku harus tunduk berserah pada kehendak jiwaku yang menyesatkan. Allah...,Engkau lebih aku cinta dari segalanya, jangan biarkan hati ini bergantung pada selain-Mu.



Sabtu, Maret 14, 2009

Karena Cinta, Aku Marah


masih tersimpan endapan rasa yang mengganjal di kalbu, ketika suara hati terdengar lirih di keheningan malam tak berbintang ingin rasanya kuteriak dengan sora yang memecah gelombang samudera, biar langit tahu akan kekesalan yang meresap di atma, biar gunung yakin bahwa badai akan selalu datang berkunjung setiap saat serta menghancurkan eloknya pepohonan

jangan tanya kenapa udara tak bisa terlihat ?
jangan tanya kenapa awan putih berganti hitam?
jangan tanya kenapa air mata berasa asin?
jangan tanya kenapa darah itu merah?
jangan tanya kenapa marah?
jangan tanya kenapa!!

kau ingat ketika mata tertutup derunya debu yang beterbangan, sgalanya menjadi kelabu diantara lelahnya bayangan kesesakan yang terasa berat dipelupuk, hingga tak terasa butiran-butiran air mata mengalir diantara alur-alur wajah menggenangi keindahan semu yang selama ini menipu kalbu, andai darah itu putih mungkin kedamaian akan selalu melambai dengan kelembutan salju, namun sayang darah rupa nya merah hingga dekat detak marah selalu memompa setiap saat

ku telah lelah..
ku merasakan letih..
ku terhempas pilu yang medalam..
kuingin bersandar walau hanya pada satu tiang..
uuuuuugggggggghhhhhhhhh.....

Anak-anakku ...
kupinta maaf

...........mmmmm, Lucu..........
kutulis ini karena masih terbayang, malam itu aku marah..hanya karena kalian telat datang halaqah, hanya 30 menit memang, hingga aku melemah karena kecewa menanti. tapi itu DISIPLIN penting ikhwah!
Maafku memarahimu
Bahkan Iqab yang kalian pinta tak kupeduli
aku hanya ingin samapikan bahwa, Marahku Karena Cintaku
andai kalian paham !!!

Akhi..... Kau Misteri


Akhy… kau sedang apa?
Bercanda dengan pena dan untaian kata-kata
Tak banyak bicara tak banyak berucap
Kau hanya diam, sambil bermain dengan deretan huruf dan kata
Kadang tertawa, kadang tersenyum, kadang hanya meringis
Tapi aku tak pernah melihatmu cemberut
Kenapa kau tak dapat kutebak?

Akhy… dimana kau belajar?
Untaian kata dan barisan bait-bait rasa kau padukan dalam figura
Kau melukiskannya hingga dapat terasa benar maknanya
Masuk melewati pori-pori dan bersarang di hati yang menikmatinya
Pesan-pesanmu itu, ungkapan-ungkapan itu
Kadang membuat senyum mengembang, tak urung membuat hati tergugah

Dimana kau belajar?
Tentang baris-baris kehidupan yang tak banyak orang tahu
Tentang bait-bait rasa yang tak banyak orang paham
Dimana kau cari gurunya?

Akhy…
Aku tak tahu bagaimana hendak melukismu
Kau begitu diam, sediam lautan
Tapi apa kau juga akan bisa ganas seperti ombak
bila kiranya hatimu tertusuk duri?
Tidak… pasti tidak
Karena kau jadikan ikhlas sebagai tameng dalam kehidupan

Akhy…
Bolehkah kupanggil kau misteri?
Karena kau memang misteri
Tak dapat kutarik arti dari namamu
Tak dapat kubaca arti dari tiap sikapmu
Tak dapat kumengerti arti dari tiap lakumu
Yang kupaham kau sedang mengembara
Mencari jalan pulang dan teman setia
benarkan demikian, ataukah aku salah?

Aku tak tahu bagaimana rupamu
Maka itu tak dapat kulukiskan siluetmu
Aku hanya pernah mendengar suaramu, itupun hanya dibalik
musik cantik yang kau racik dibalik tabir malam
yang kau kata kau balut dengan suara karena keisengan
Kusangka kau lembut, penuh canda dan selalu membuat tertawa
Tapi tak tahulah… aku hanya menebak,
Karena aku tak tahu bagiamana kau sebenar

Yah… Khalik sang pemegang kehidupan memang pandai mencipta
Dia telah mencipta makhluk misteri sepertimu

Ya akhy…
Senang berkenalan denganmu, senang berteman denganmu
Kudoakan bidadarimu secantik bidadari surga
Senyumnya lebih bercahanya dibanding rembulan,
Sorot matanya lebih meneduhkan dibanding malam,
Suaranya semerdu alunan dzikir yang tak henti menemanimu
Keteguhannya lebih dari kerasnya batu karang
Cintanya lebih dari cinta pada dunia
Jihadnya… ada dalam bimbinganmu

Semoga tak terlalu berlebihan
Semoga tak terlalu berlebihan

Ruang Tamu


Tinggalkan Pesan Terbaikmu

Puncak Selera Jiwa

Pojok Hikmah

mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah