Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kategori

Artikel (4) Dakwah (7) Motivasi (3) Muhasabah (11) Munajah (7) Prosa (5) Puisi (18) Tarbiyah (2)

Minggu, Maret 21, 2010

Aku Tahu Kau Hanya Cemburu




Aku sadar
Saat Amarahmu terbakar kala ku sulut
Dengan lantunkan indah kisah lalu
Ku berkeras untuk menuturkannya
Dan menyingkirkan perasaanmu

Aku sadar
Saat kau salahkan diriku
Atas perihmu dengan segala keegoisanku
Yang tak pernah peduli
Hanya ada satu namaku dihatimu

Aku sadar
Saat kau sangkakan aku dengan tebakanmu
Ku tau kau tak benar-benar menduga
Karena kau tau kaulah labuhan hatiku
Dan kaulah tempatku kembali

Aku sadar
Kau hanya cemburu,..Ku coba mengerti,..
You just want to tell me how much You Love Me…


Sabtu, Maret 20, 2010

Berdiamnya Bibir Bukan Berarti Benci


Diam....Bibirku terdiam
tapi bukan berarti aku marah..
Aku memang terlihat diam...
Dan hanya bisa menatapmu dari Jauh
Karena hanya itu Yang bisa dilakukan
Sejenak ku terdiam
Apa yang ku pikirkan?!
ah....Masih jauh di ujung Sana
BiarLah ku tetap begini
Dengan ku terdiam
Mungkin akan menetramkan hatimu juga hatiku
semoga kau mengerti
diam kita merenung...
suatu saat suara itu akan ada.....

Selalu Ada Cinta Untukmu


Perjalanan cinta memang sungguh indah namun tetap saja selalu ada lika-liku serta kerikil tajam dan juga kebekuan yang terus saja mencoba untuk mengganggu. Sulit bila dibuat menjadi sulit. Mudah bila memang kekuatan cinta itu dijadikan sebagai inti dan sumber utama.

Kehidupan dunia nyata sekarang ini sungguh sangat berat. Politik, ekonomi, hukum, sosial, semuanya sudah sangat tak menentu. Kepastian sangat sulit untuk dipastikan. Kini pun sangat tidak bisa menjadi pasti. Biarpun mimpi, angan, dan cita-cita tidak pernah bisa dihentikan, namun semuanya menjadi seperti duri yang terus saja menancap di dalam hati dan pikiran. Membelenggu diri dengan menjadi tidak tahu.

Kekasih tercinta yang sangat saya cintai sedang menangis. Air matanya mengalir karena kesedihan atas semua yang terjadi dan atas semua yang harus dihadapi. Gemas dan juga geram karena tak kuasa untuk melakukan. Menunggu kepastian adalah harapan terbesarnya. Mewujudkan segala mimpi, angan, dan cita-cita adalah hidupnya.

“Sedang apa, cinta?”
“Saya sedang dalam perjalanan. Bagaimana denganmu, sayang?”
“Saya sedang menanti mereka yang telah berjanji. Sedih karena mereka tak juga datang.”
“Janganlah bersedih, sayang. Kita sama-sama usahakan yang terbaik.”
“Mata saya hampir meneteskan air mata.”
“Saya cinta kamu. Cinta saya selalu untukmu. Semua yang terbaik untuk cinta kita, ya.”
“Air mata saya benar-benar menetes.”
“Sabar, ya, sayang. Selalu ada sejuta ciuman untukmu.”

Pilu rasanya hati ini merasakan segala rasa yang ada di dalam dirinya. Kesedihannya adalah kesedihan saya juga. Kegundahannya adalah kegundahan saya juga. Segala rasa yang ada di dalam dirinya adalah segala rasa yang ada di dalam diri saya. Dalam diam di antara keramaian saya pun menangis. Tetesan air matanya adalah air mata saya juga. Tidak bisa untuk tidak. Tidak kuasa untuk memungkirinya.

Saya ingin sekali memeluknya dan mendekapnya dalam-dalam. Membiarkannya masuk ke dalam lubuk terdalam hati saya. Membiarkannya menangis di sana sampai tetesan air mata itu habis dengan sendirinya. Memberikan ketenangan dan kedamaian sehingga apa yang dia rasakan bisa kemudian berubah menjadi sebuah semangat yang baru. Saya ingin semua yang menjadi mimpi, angan, dan cita-citanya menjadi nyata. Sebuah kehidupan yang bisa memberikannya sejumlah kepastian. Saya sangat mencintai dia. Amat teramat sangat.

Segala daya dan upaya saya perjuangkan untuknya. Saya ingin selalu memberikan segala yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk diberikan kepadanya semua. Semuanya untuk dia. Hanya untuk dia. Dia cinta saya. Saya cinta dia.

Menjadi pasangan cinta dalam perjalanan cinta sangatlah membutuhkan kesabaran dan juga pengertian. Emosi selalu saja ada. Senang ataupun susah. Suka ataupun duka. Tatkala semua itu terjadi, jadikanlah cinta sebagai sumber kekuatan. Cinta bisa memberikan segalanya. Cinta bisa menjadikan segalanya. Cinta jugalah yang mengalahkan segalanya. Kamu juga, kan, yang mengajarkannya kepada saya untuk selalu memenuhi diri dengan cinta agar cinta itu selalu ada?! Biarkan cinta menjadi semakin besar dan besar lagi sehingga semuanya menjadi terwujud.

Janganlah melemahkan rasa cinta di dalam diri hanya karena apa yang dikatakan sebagai kebutuhan nyata di dalam kehidupan. Berikanlah juga cinta selalu kepada diri sendiri. Yakinlah bahwa semua bisa diselesaikan dan digapai. Semua pasti bisa. Seperti juga yang pernah kamu ucapkan kepada saya, “Semua tergantung bagaimana cara berpikirnya saja. Rumit bisa menjadi rumit dan mudah bisa menjadi mudah“. Ingatkah itu, sayang?!

Sabar, ya, sayang. Kita berdua masih memiliki perjalanan cinta yang panjang. Saya ingin semuanya tidak menjadi sebuah perjalanan yang sia-sia tetapi menjadi sebuah perjalanan cinta yang tidak pernah terputus dan juga tidak memiliki tepi. Cinta kita untuk kita. Cinta kita juga untuk semua. Harapan adalah sebuah asa yang selalu ada. Masa depan kita adalah sebuah kepastian walaupun kini tidak bisa dikatakan pasti. Semua membutuhkan cinta kita. Demikian juga kita. Kita membutuhkan cinta semua. Cinta harus selalu ada, ya, sayang.

Perlahan-lahan kita akan terus berjalan bersama. Beriringan dan berdampingan kita menggapai semuanya. Menghadapi segala cobaan yang datang dengan segala cinta yang kita miliki. Dari cinta, oleh cinta, dan untuk cinta.

Ibu pertiwi kekasih tercinta. Sabar, ya, sayang. Berhentilah menangis. Saya sangat mencintaimu dan saya pun tahu dirimu sangat mencintai saya. Mari kita sama-sama terus bercinta sepanjang perjalanan cinta kita. Cinta kita adalah sepanjang masa yang ada di dalam ruang tanpa batas dan waktu.

Semoga cinta itu selalu ada.
Kompasiana

Belajar dari Kupu-Kupu


Kupu2 dalam sangkar
Kita bisa bertengkar saat tak sabar

Istriku…
Sebelum kamu membenciku
Maukah engkau membuka diri
Ungkapkan derai mata hati

Keluhmu
Resahmu

Iringi dengan kata
Gerak yang nyata
bantu aku saat belum tahu
Ingatkan aku atas kelalaianku

Kupu2, sangkar terbuka
Kita bisa tertawa disaat yang sama

Istriku
sebelum kamu mencintaiku
maukah kau rentangkan semua rasa
Kelompokkan tiap kata

Tiap gerak hati
Tiap aksi

Yang matamu menjadi saksi
yang telingamu menjadi saksi
Baikkah aku untukmu
Dengan ilmu Sang maha Tahu?

Kupu2 bersayap dua
Sabar dari Alloh, sabar hati bersua

Saatnya telah tiba
Untuk mempertemukan hati kita
Untuk itu
Maukah kamu berbagi denganku
Ilmu dan rasa hati
Yang kita miliki
Yang kita pelajari
Sampai akhir kita nanti

Kupu2 pasti terbang
Aku bisa mati dan kamupun berpeluang

Sekarang atau nanti
Aku pasti mati
Maata’buduuna mim ba’dii?!
Saat ini sampai nanti

Tinggalkan sangkar jauh
Sabar hati lawan keluh

Saat aku mati
Selalu ada alloh yang menemani
Saat aku mati
Tidak cuma suami yang menjadi jalan rizki

Sangkar hampa-kupu2 riang
Alloh maha kuasa memberi tenang

Dan hanya janji-nya yang pantas dipegang

-semoga Alloh memberkahi keluarga kita-



Penghormatan untuk Istriku



Lima menit berlalu, kami masih terdiam. Aku tahu pasti jika Ummi, istriku sedang marah. Dia memang tidak mengucapkan kata-kata dengan nada yang keras. Namun, dari intonasi dan gaya bicaranya yang tidak biasa, aku bisa memahami kalau hatinya sedang tidak berkenan dengan perbuatanku. Setahun lebih menikah telah membuatku paham dengan kebiasaannya. Ummi menghela nafas, tanda amarahnya telah berkurang. Kuberanikan diri untuk bicara,
”Sudah selesai, ummi?” tanyaku pelan. Dia menjawab dengan anggukan.
”Abi minta maaf, Abi tidak sengaja. Tadi malam Abi lembur mengerjakan tugas dari Kampus sehingga tadi sehabis shalat dluha Abi tertidur dan Biun ketika hujan sudah lebat, jadi tidak sempat menyelamatkan jemuran yang telah kamu cuci. Sekali lagi Abi minta maaf, biar nanti jemurannya Abi cuci kembali”. Mendengar penjelasanku amarah Ummi menjadi reda. Dia kemudian duduk mengambil posisi di hadapanku. Ini hari minggu, kami libur mengajar. Tadi setelah selesai mencuci pakaian, Ummi pergi belanja ke pasar.
Sejak menikah hingga saat ini, kami hidup dalam kesederhanaan. Rumah kami masih mengontrak, namun kami tetap bersyukur masih punya tempat untuk berteduh dari panas dan hujan. Kami memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah tanpa melalui proses pacaran. Persamaan kami adalah kami anti pacaran. Waktu itu kami belum mendapat pekerjaan, hanya kepercayaan atas rezeki dari Allah lah yang membuat kami berani untuk menikah. Alhamdulillah, saat ini kami telah menjadi guru meski cuma guru swasta; aku di SMP sedang dia di Madrasah Aliyah. Kami sepakat untuk selalu bersama dalam berjuang menggapai cita-cita dalam segala keadaan. Aku mencintainya dan dia pun mencintaiku.
”Bi, Ummi boleh tanya?” suaranya memecah keheningan yang kembali terjadi sesaat.
”Ada apa Mi?” sahutku.
”Kenapa sih Abi tidak pernah marah sama Ummi? Ummi sendiri merasa kalau selama ini Ummi belum bisa menjadi istri yang baik, sering membuat Abi kecewa, sering marah-marah; tapi kenapa Abi selalu sabar dengan sikap Ummi yang seperti ini?”. Mendengar pertanyaan Ummi, aku terdiam. Aku jadi teringat sebuah kisah yang terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khottob ra. Saat itu ada seorang sahabat yang hendak melaporkan kelakuan istrinya yang kasar terhadapnya kepada Khalifah Umar. Dia ingin mendapatkan saran dari beliau dalam menghadapi istrinya. Lalu pergilah sahabat tersebut menuju rumah (benar rumah, bukan istana) Khalifah Umar. Ketika sampai di depan rumah Khalifah Umar dia berhenti. Sahabat itu mendengar dari luar jika Khalifah Umar sedang dimarahi oleh istri beliau, sedangkan beliau hanya diam. Sahabat itu lalu berfikir, ”Kalau Khalifah Umar saja diam saat dimarahi istri beliau, apa yang bisa disarankan beliau untukku?”. Akhirnya dia berniat pulang dan tidak jadi meminta pendapat beliau. Selang beberapa langkah, dia dipanggil oleh Khalifah Umar,
”Wahai Fulan, engkau telah sampai di depan rumahku, mengapa engkau hendak kembali lagi?”. Mendengar pangilan Khalifah Umar, sahabat tersebut menghampiri beliau dan berkata,
”Maafkan wahai ’Amirul Mukminin, tadi aku hendak melaporkan kelakuan istriku yang kasar terhadapku. Tapi ternyata kulihat engkau diam saja ketika dimarahi istrimu, jadi kufikir apa saran yang bisa kudapat darimu?” jawab sahabat.
”Kenapa aku diam saja ketika istriku marah padaku, itu karena aku menghormatinya. Aku mengalah dan membiarkannya memarahiku karena dia telah banyak membantuku. Dia yang mengurus aku dan rumahku, mencucikan baju untukku, membuatkan roti untukku, memasak untukku, dan pekerjaan lain; sementara semua itu tidak pernah kuperintahkan padanya. Jadi sudah sepantasnya aku memuliakannya.”. jelas Khalifah Umar. Sahabat itu akhirnya mengerti dan kembali kepada istrinya dengan hati yang tenang.
”Bi, kok diam?” suara Ummi membuyarkan ingatanku. Lama dia menunggu jawabanku.
”Oh iya, maaf. Bagi Abi, kamu adalah istri yang terbaik. Abi selama ini sabar dan akan selalu berusaha bersikap sabar atas sikapmu, karena Abi ingin memuliakanmu selama di dunia. Sebab jika kita berhasil mati dalam keadaan Islam, di akhirat Abi akan mendapatkan hadiah bidadari, itu artinya Abi akan memadumu meski kamu tetap jadi istriku yang utama dan menjadi ratu dari bidadariku. Maka dari itu selama masih di dunia, Abi ingin membuatmu merasa sempurna dengan semua cintaku. Dan, Abi tidak akan menduakanmu dengan menikahi wanita lain.” Mendengar penjelasanku, Ummi tertunduk. Pelan kudengar dia terisak, setelah itu dia menghambur ke arahku. Dia berlutut dihadapanku sambil mencium tanganku. Tangisnya meledak,
”Maafkan aku, Bi….. maafkan aku.” pintanya dalam isakan.
Tanpa terasa air matakupun meleleh. Aku hanya bisa mengangguk sambil membelai rambutnya yang halus.
”Aku ingin kamu jadi bidadariku, selamanya………”

TW ( edit istilah )

Ruang Tamu


Tinggalkan Pesan Terbaikmu

Puncak Selera Jiwa

Pojok Hikmah

mimpi dapat diperpanjang. tidak peduli berapa usia kita atau apa kondisi kita, karena masih ada kemungkinan belum tersentuh di dalam diri kita dan keindahan baru menunggu untuk dilahirkan. Karena Bermimpilah ! untuk esok yang indah